• Jumat, 20 Mei 2022

Palindrom, Upaya Menemukan Bentuk

- Jumat, 21 Januari 2022 | 06:25 WIB
WhatsApp Image 2022-01-21 at 10.55.51 (1)
WhatsApp Image 2022-01-21 at 10.55.51 (1)

Judul                : Palindrom Penulis             : D. Hardi Penerbit           : CV Polesis Indonesia Tebal                : iv +203 halaman Cetakan           : Pertama, November 2021 ISBN                : 978-623-97730-7-6   Hardi, mengumpulkan dua puluh sembilan cerita pendek yang dia tulis selama tiga tahun, dan menerbitkannya ulang dalam sebuah buku kumpulan berjudul "Palindrom". Palindrom yang bermakna ‘bolak-balik sama’ menandakan bahwa seluruh cerita dalam kumpulan ini, baik yang pertama atau terakhir membawa makna yang sama sebagai persoalan kemanusiaan. Setidaknya demikian yang harus kita baca. Sebelumnya, sebagian cerita ini memang sudah pernah diterbikan oleh pelbagai media massa. Cerpenis kelahiran Bandung, dan memilih tetap tinggal di Bandung ini juga memilih jalan sastranya. Jalan sunyi, tapi dinikmati sebagai kudapan imaginasi. Ketika membaca satu per satu cerita dalam kumpulan ini - apa yang terlihat adalah gugusan narasi yang muncul sebagai diksi tertata sebagaimana taman hayati, rapi, namun juga dipenuhi teka-teki, karena terkadang kita menjadi lamban mengerti oleh sebab pilihan katanya tersembunyi dari mata kelaziman. Misalnya, dalam cerita berjudul "Palindrom", paragraf dua, D. Hardi menulis: Di waktu selumbari, nyawanya tak sempat kembali...Kemudian pada paragraf enam, dalam cerita yang sama, dia menulis: Ia kembali hanyut menatap televisi yang digantung dekat meja bar. Raut sabaknya biram... Pada susunan kata itu, kita mendapatkan kata yang tak lazim digunakan dalam keseharian, seperti 'selumbari, sabak dan biram'. Selumbari bermakna indikasi waktu lampau, atau dua hari sebelum hari ini. Adapun sabak adalah batu hitam, dan biram adalah ular berkepala dua. Tentu saja tiga kata itu hanyalah contoh sebagian, karena hampir di seluruh cerita dalam kumpulan buku ini kita akan sering mendapatkan diksi semacam itu. Baik yang tersusun sebagai sintaks, kalimat, klausa, frasa atau metafora. Semua diksi itu, satu sisi memberikan efek kesenangan, karena ada irama dengan pola prosodi, asonansi, dan sisi lain memberikan efek sakit kepala dan menghambat imaginasi. Tergantung siapa yang membacanya. Membaca dua puluh sembilan cerita ini, setidaknya kita juga menemukan gaya penulisan yang sebagian merupakan representasi sastra posmodern. Terutama penggunaan teknik metafiksi. William H. Gass, misalnya, di tahun 1970 (Fiction and The Figure of Life) menyebut metafiksi adalah fiksi yang ditulis dengan melibatkan kesadaran pembaca bahwa apa yang dibaca adalah realitas fiksi. Bagusnya, D. Hardi menulis metafiksi dengan upaya tetap menjaga ilusi fiksi tetap ada. Karena tentu saja, salah satu masalah yang menjadi sasaran kritik dalam metafiksi adalah hilangnya kenikmatan ilusi fiksi. Seperti menjadi kelaziman dalam sastra pascamodern, gagasan cerita dalam kumpulan ini juga menawarkan pola-pola kisah detektif lama, namun disibukkan dengan pemaknaan ala posstrukturalis dan dekontruksi, seperti halnya Umberto Eco menulis novel posmodern The Name of the Rose. Pada halaman 169, contohnya, kita akan menemukan cerita berjudul "Matinya Sang Primadona". Protagonisnya adalah 'aku' sang narator yang sadar dan mengeluhkan menjadi bagian tumpukan beban dalam struktur patriarkis yang dijejalkan sang penulisnya pada tokohnya untuk masuk ke dalam rutinitas yang membosankan, sebagaimana Sisifus yang terus menerus mendorong batu ke atas gunung, dan mengulangnya lagi tanpa henti. Meskipun di sini, D. Hardi tidak mengurai secara mendalam makna eksistensialitas Sisifus seperti maksud Albert Camus dalam konsep faktisitasnya. Narator dalam cerita ini, sekaligus protagonis menyela ilusi pembaca dengan mewanti-wanti pembaca untuk tidak berharap terlalu tinggi pada cerita misteri ini. Tentu saja, sebab seperti D. Hardi tulis, “setiap pengarang, katanya, adalah pengarang kasus”. Meskipun demikian, kita juga mendapatkan cerita model modernisme, baik dari isi maupun bentuk. Dalam cerita pertama berjudul "Derau Hujan dan Muslihat di Angkasa", kita masih mendapatkan kisah dengan alas modern seperti itu yang melibatkan pola drama Aristoteles yang menghadirkan plot melalui renungan katarsis setelah peristiwa goncangan pesawat yang nyaris celaka. Selamatnya pesawat dari kecelakaan itu membuat protagonis (seorang gadis) menjadi tercerahkan dan bisa menerima teman perjalanannya, seorang pria yang semula dia anggap bagian luka masa lalu yang harus dihindarkan. Selain itu, kita juga akan mendapatkan tema-tema lain seputar humanisme, esksistensialisme- faktisitas, dan kesunyian filosofis asing yang didedahkan dalam konflik cerita, seperti manusia melawan manusia, manusia melawan dirinya, atau semesta alam yang seluruhnya ditulis sebagai opini narator yang bernada sinis, dan pesimis. Dan itu memperlihatkan upaya pengarang milenial yang terseret dalam pusaran wacana modernisme dan posmodernisme untuk mencari bentuknya. Kumpulan cerita pendek ini, di luar masalahnya, tentu saja adalah bagian perjalanan sastra Indonesia yang sepantasnya harus dicatat sebagai upaya menghadirkan bentuk baru dari seorang cerpenis Indonesia -yang sejauh ini masih belum juga ada yang berhasil menemukan.   Biodata Singkat :  Ranang Aji Surya Putra (Ranang Aji SP), adalah penulis fiksi sastra dan esais dari Magelang

 

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Drakor Religi: Adakah Drama Korea religi?

Rabu, 6 April 2022 | 12:45 WIB

Palindrom, Upaya Menemukan Bentuk

Jumat, 21 Januari 2022 | 06:25 WIB

Menentang Paranoia Bebas Anak

Senin, 23 Agustus 2021 | 05:38 WIB

A Family: Sisi Lain Kehidupan Yakuza

Selasa, 13 Juli 2021 | 05:44 WIB

The BOX : Menantang Diri Sendiri, Yakin?

Jumat, 23 April 2021 | 11:07 WIB

Kiamat Sudah Dekat Versi Sains (?)

Selasa, 13 April 2021 | 23:12 WIB
X