• Jumat, 20 Mei 2022

Sepasang Mata Gagak di Yerusalem: Bukan Cerita Perjalanan Biasa

- Jumat, 10 Desember 2021 | 06:32 WIB
efgagfas
efgagfas

Judul Buku : Sepasang Mata Gagak di Yerusalem Penulis : Han Gagas Penerbit : Interlude Cetakan : Pertama, Juni 2021 Tebal : viii + 124 halaman   Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek dari seorang penulis dari kota Surakarta, Han Gagas. Han Gagas adalah penulis novel "Balada Sepasang Kekasih Gila" yang beberapa waktu lalu menang dalam Falcon Script Hunt dan bakal difilmkan oleh Falconpicture dengan sutradara Anggy Umbara. Buku yang terdiri dari 15 cerpen ini mengangkat beragam tema. Sebagian besar dari cerpen dalam buku ini pernah dimuat media massa baik cetak maupun digital dalam rentang waktu yang cukup lama. Meskipun masih seperti buku-buku karya Han Gagas yang lain yang sering kali bercerita tentang orang gila –sekarang sering disebut dengan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa)-, namun dalam kumpulan cerpen ini banyak juga menampilkan cerpen-cerpen yang bercerita tentang hal lain. Masih ada beberapa cerpen yang bercerita tentang ODGJ, seperti "Si Gila" dan "Ruang Isolasi untuk Si Gila", tetapi cerpen yang lainnya menawarkan tema cerita tentang banyak hal. Tema-tema mulai perjalanan spiritual, kesaktian, percintaan, kasih sayang yang hilang, isu lingkungan, dan kesendirian. Cerita tentang perjalanan spiritual ada pada cerpen "Sepasang Mata Gagak di Yerusalem" –kemudian menjadi judul buku kumpulan cerpen ini- dan tempat yang berkesan dalam "Wassenar : Dalam Hujan Kenangan". Cerita tentang percintaan ada dalam cerpen "Wayang Potehi : Cinta yang Pupus". Beberapa cerpen bercerita tentang kehilangan orang-orang yang disayangi (Bangunan ini Menelan Ibu dan Bulanku, Apartemen Itu Menelan Rembulan). Han Gagas juga mengangkat isu lingkungan dalam cerpen yang berjudul Perjalanan Sepasang Burung Gereja. Dan fenomena menarik diri dari lingkungan sosial (Hikikomori).   Perjalanan Mental Spiritual Membaca kumpulan cerpen ini seakan pembaca diajak larut dalam sebuah cerita perjalanan. Bukan cerita perjalanan biasa. Tetapi perjalanan mental spiritual. Sebuah perjalanan dimana pembaca seakan menelusuri sebuah perjalanan yang menggugah kesadaran diri. Perjalanan mengenang sejarah peradaban spiritual manusia melalui simbol-simbol peradaban yang agung di Yerusalem. Sebuah tempat yang menjadi sengketa berkepanjangan dengan waktu yang lama, bahkan hingga sekarang. Di dalam buku ini, dari beberapa cerita yang ada, pembaca juga seakan berjalan menelusuri jalan mencoba memahami perspektif lain dari orang-orang yang mempunyai kelainan jiwa yang berbeda dengan orang awam. Sebuah perspektif yang sering kali dianggap tidak lumrah bagi orang awam, tetapi kadang mempunyai ‘kebenarannya’ sendiri. Dari cerpen ini juga pembaca bisa belajar merasakan empati terhadap orang-orang yang kehilangan akan orang-orang yang disayanginya dengan sebab akibatnya masing-masing. Dan semuanya mempunyai kenangan-kenangan sendiri yang tidak akan pernah hilang dalam ingatan bagi yang ditinggalkan.   Mengambil Sisi yang Beda Beberapa hal yang menarik dari kumpulan cerita ini adalah cerita-cerita yang ditampilkan digambarkan secara realis sehingga mudah untuk dipahami pembaca. Alur yang digunakan penulis dalam bercerita dalam setiap cerpennya linier, tidak berputar-putar sehingga pembaca mudah mengikuti alur ceritanya. Gaya penceritaan dalam setiap cerpennya menarik dengan pilihan kata yang tepat, dengan bahasa yang puitis, dengan metafor yang dapat mendeskripsikan situasi dan peristiwa secara bagus dan mudah dipahami. Selain itu, cerita–cerita yang diangkat dalam buku ini tidak terjebak dengan narasi besar yang monumental. Misal dalam cerpen "Susuk Kekebalan" dan "Wayang Potehi : Cinta yang Pupus" yang mengambil setting waktu pada masa tragedi berdarah 1965 dan Kerusuhan 1998, Han Gagas tidak mengambil sudut pandang pada pusaran tragedi itu secara langsung tetapi pada sisi lain dari momentum itu. Tragedi berdarah itu hanya ‘sekedar’ setting peristiwa saja untuk mengambil sisi yang berbeda yakni kisah soal kesaktian dan percintaan antar suku/ras. Begitu juga dengan tema isu lingkungan yang diangkat. Han Gagas tidak mengambil cerita yang tentang perlawanan heroik terhadap para perusak lingkungan atau gerakan merawat alam tetapi dia menggambarkan secara halus kerusakan lingkungan dengan penggambaran tentang burung gereja yang mulai kesulitan air akibat banyaknya pohon yang ditebangi oleh manusia (Perjalanan Sepasang Burung Gereja). Akhirnya, buku kumpulan cerpen ini –terlepas dari ada cerita yang cukup monoton dalam penceritaannya- buku yang pantas untuk dibaca dan dinikmati oleh siapa saja terutama penyuka dan penikmat buku sastra. Pembaca mungkin akan menemukan ‘sesuatu yang berbeda’ setelah selesai membacanya. Mungkin itu yang ingin ditawarkan oleh Han Gagas, sang penulis, dalam buku kumpulan cerpennya kali ini.   Biografi singkat :
-
Tri Apriyadi, penikmat buku sastra. Aktif menjadi pengurus di Komunitas SastraKu Kulon Progo ( 2019 –sekarang). Beberapa cerpennya dimuat dalam antologi bersama : Kluwung, Lukisan Maha Cahaya (2020), Seekor Burung dan Mantan Tahanan dalam Bus Kota (2020), Duhkita (2021). Buku kumpulan cerpen tunggalnya berjudul Maafkan, Aku Ingin Menikah Lagi (Guepedia, 2020). Saat ini tinggal di Wates, Kulon Progo          

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Drakor Religi: Adakah Drama Korea religi?

Rabu, 6 April 2022 | 12:45 WIB

Palindrom, Upaya Menemukan Bentuk

Jumat, 21 Januari 2022 | 06:25 WIB

Menentang Paranoia Bebas Anak

Senin, 23 Agustus 2021 | 05:38 WIB

A Family: Sisi Lain Kehidupan Yakuza

Selasa, 13 Juli 2021 | 05:44 WIB

The BOX : Menantang Diri Sendiri, Yakin?

Jumat, 23 April 2021 | 11:07 WIB

Kiamat Sudah Dekat Versi Sains (?)

Selasa, 13 April 2021 | 23:12 WIB
X