• Jumat, 20 Mei 2022

DE OOST ( The EAST) : PERGOLAKAN RASA SERDADU BELANDA DAN KISAH   WESTERLING

- Sabtu, 14 Agustus 2021 | 09:09 WIB
j
j

Bulan Agustus adalah waktu yang paling ditunggu kemeriahannya bagi seluruh masyarakat Indonesia. Segala keriuhan kegiatan telah terancang dan terencana beberapa bulan sebelumnya. Sayang, tahun ini adalah kali kedua harus di rumah saja, masih pandemi. Meski begitu, tayangan film seputar kemerdekaan atau film perang tetap bisa menjadi pilihan teman nongkrong di rumah. Kali ini film yang akan dikabar ceritakan adalah De Oost ( The East) hasil besutan seorang seniman Belanda-Maluku, Jim Taihuttu, produksi tahun 2020. Yang berbeda di sini adalah, sudut pandang dari seorang prajurit relawan Belanda. Isi cerita yang kontroversial dan mendapat beberapa kritikan karena dianggap mencoreng wajah KNIL dan menafikan perjuangan para veteran di mata warga negeri kincir angin. De Oost ( The East) berlatar tahun 1946 ketika Hindia Belanda memasuki masa Revolusi Nasional Indonesia. Seorang prajurit muda bernama Johan De Vries, bergabung dengan resimen B yang bertugas ke Semarang. Dengan latar belakang keluarga yang suram, ayahnya tengah menjadi tahanan politik karena menjadi bagian dari NAZI Belanda, kerabat menjauhi dan ibunya meninggal dalam kesedihan dan keterbatasan. Ia bergabung menjadi tentara Belanda yang bertugas di Timur untuk kembali menjaga Hindia Belanda setelah Jepang hengkang, dari para pejuang kemerdekaan pribumi. Para pejuang kemerdekaan ini mereka sebut sebagai teroris atau pengganggu kedamaian. Singkat cerita, Johan yang pada awalnya yakin resimennya akan melindungi rakyat Hindia, ternyata tidak seperti yang ia pikirkan. Banyak ketimpangan dan kesengsaraan yang ia lihat keseharian, sementara resimennya yang rajin patroli itu tak berbuat apa pun untuk membantu warga yang kesulitan. Suatu ketika ia bertemu seorang laki-laki yang gagah, berani mengusir beberapa tentara Jepang yang merampas barang-barang salah satu warga. Beberapa orang di Resimen menyebutnya ‘( De Turk) Si Turki’, para komandan berpangkat menyebut ‘Raymond’. Bahkan menjadi jaminan wilayah yang dijaga di bawah kepemimpinannya akan cepat pulang karena perang selesai. Johan terpesona dengan kesigapan Kapten Angkatan Darat Raymond Westerling, yang memimpin operasi kontra-pemberontakan melawan gerilyawan Indonesia. Ia menjadi dekat dan masuk dalam pasukan khusus yang dibentuk Westerling. Suatu hari, Johan dan timnya harus segera berangkat naik kapal menuju Celebes atau Sulawesi, melakukan operasi pembersihan. Lambat laun, Johan semakin sering mempertanyakan perihal perang pada dirinya sendiri. Pembantaian tanpa ampun pada penduduk yang miskin benar-benar mengganggu pikiran dan hati Johan. Pergolakan batin Johan membuahkan tekad untuk berusaha keluar dari tim khusus, cap pengkhianat segera ia dapatkan hingga dikaitkan dengan pengkhianatan sang bapak yang mantan NAZI Belanda.

-
Film berdurasi tak lama ini banyak dilihat dari sudut pandang Johan dan prajurit-prajurit KNIL. Sebagian merasa yakin apa yang mereka lakukan di Hindia adalah benar, Soekarno pun mereka sebut sebagai pengecut, sebagian lagi sekedar kewajiban karena tak punya pilihan . Bagi Johan, setiap tindakan tetap harus memiliki alasan, meski berperang ia tak ingin merampas milik penduduk. Sejarah tentang perang dan kolonialisme di Indonesia memang gencar dikisahkan dan masuk dalam sejarah Indonesia, tetapi tidak di Belanda. Pun kekejaman Raymond Westerling tentang pembantaian 40.000 penduduk di Sulawesi yang sangat diingat karena kekejamannya, sementara di Belanda konon hanya terlapor 3000 jiwa saja. Putri dari Raymond Westerling, Paylmira Westerling, keberatan dengan penokohan Westerling di film ini, dan membantah tentang pembantaian yang dilakukan ayahnya, ia menganggap isi film memalsukan sejarah. Di Hindia Belanda bukan perang tetapi aksi polisional. Film De Oost, bahkan disertai bahan pelajaran untuk murid di Belanda tentang kolonialisme di Hindia Belanda. Para pengecam dan penolak film menggugat, sayangnya harus gigit jari, karena pihak pengadilan memutuskan Film De Oost tidak bersalah. De Oost, pertama kali diputar di Festival Film Belanda pada September 2020. Tokoh Johan De Vries adalah fiktif, tetapi menurut Sander Verdonk yang turut memproduseri bersama Shanti Harmayn yang asli Indonesia, tentang Westerling, sangat tipis sisi fiktifnya dan hanya menunjukkan sedikit sisi kekejaman serta kesadisannya dibanding kejadian sebenarnya. Seperti yang biasa kita tonton film-film perang, selain setting peristiwa, pergolakan para prajurit di garis depan tak akan berbeda. Mereka berperang membawa nama negara, tetapi tak ada yang senang dengan perang, membunuh siapa saja yang mereka temui hanya karena khawatir diserang dari belakang atau mereka adalah mata-mata.
-
Sebuah catatan sejarah tentu memiliki dua sudut pandang. Dalam perkembangan saat ini, beberapa peneliti dan jurnalis di Belanda mulai benar-benar membuka catatan-catatan lama dan mempelajari dengan dua sisi. Banyak hal yang harus diketahui bagi generasi baru tentang kisah-kisah lain tentang negerinya itu. Bahkan di awal Maret tahun lalu, 2020, Raja Belanda Willem Alexander didampingi Ratu Maxima menyampaikan permintaan maaf dan penyesalan secara langsung kepada Presiden Jokowi, atas perlakuan kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun pendudukannya. Dari momen inilah kerja sama antara Indonesia dan Belanda, film De Oost terwujud. Beberapa setting kebun teh di seputar Boscha, Jawa Barat dan Pacitan, Jawa Timur menjadi pilihan lokasi penggarapan film.  Selain aktor Belanda, Martijn Lakemejeier yang memerankan Johan De Vries dan Marwan Kenzari yang sempat memerankan Jafar di Film Aladdin, kali ini ia memerankan De Turk alias Raymond Westerling, pun ada beberapa aktor Indonesia yang terlibat, salah satunya Lukman Sardi. Berminat nonton? Bisa jadi teman nongkrong sambil ngemil.   Gangnam, 12/8/2021      Biodata singkat: Yessita Dewi, lama di dunia radio dan sesekali menjadi pengisi suara/dubber. Kini menjadi salah satu narator Difalitera. Pernah menulis naskah sandiwara radio, naskah sinetron serial anak-anak, FTV dan film dokumenter sampai tahun 2017. Ia juga menulis cerpen, esai, cerkak di media cetak serta beberapa buku antologi yang turut ia ramaikan.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Drakor Religi: Adakah Drama Korea religi?

Rabu, 6 April 2022 | 12:45 WIB

Palindrom, Upaya Menemukan Bentuk

Jumat, 21 Januari 2022 | 06:25 WIB

Menentang Paranoia Bebas Anak

Senin, 23 Agustus 2021 | 05:38 WIB

A Family: Sisi Lain Kehidupan Yakuza

Selasa, 13 Juli 2021 | 05:44 WIB

The BOX : Menantang Diri Sendiri, Yakin?

Jumat, 23 April 2021 | 11:07 WIB

Kiamat Sudah Dekat Versi Sains (?)

Selasa, 13 April 2021 | 23:12 WIB
X