• Jumat, 20 Mei 2022

Nasib Manusia, Nasib Mereka yang Tidak Dapat Pulang ke Tanah Air

- Minggu, 6 Juni 2021 | 05:34 WIB
WhatsApp Image 2021-06-05 at 21.21.25
WhatsApp Image 2021-06-05 at 21.21.25

Judul: Nasib Manusia: Kisah Awal Uzhara, Eksil di Rusia
-
Penulis: Syarif Maulana Penerbit: Ultimus, Bandung Tahun Terbit: 2021 Jumlah Halaman: xx+188 hlm. ISBN: 978-602-8331-87-6   Sungguh amat sulit membayangkan hidup selama puluhan tahun jauh dari Tanah Air kelahiran dengan status kewargenegaraan yang telah dicabut paksa dan tanpa kepastian kapan dapat pulang. Kira-kira demikianlah nasib ratusan bahkan ribuan orang Indonesia yang tidak bisa kembali ke tanah kelahirannya setelah terjadinya konstelasi dan perubahan politik Indonesia pada 1965. Mereka adalah generasi intelektual Indonesia yang dikirim Sukarno untuk belajar ke luar negeri, terutama Eropa, dengan harapan setelah lulus dapat kembali menjadi para terpelajar yang akan memimpin dan membangun Indonesia yang baru saja merdeka. Salah satu dari ribuan orang tersebut adalah Awal Uzhara, seorang mahasiswa sinematografi yang lulus dari VGIK (Institut Sinematografi Seluruh Negara Bagian) Moskow, sebuah kampus perfilman yang cukup bergengsi di Uni Soviet, yang kemudian membuatnya harus hidup setengah abad lebih di negara Beruang Madu tersebut. Kutub politik Tanah Air yang bergeser ke kanan membuat Uzhara bersama ribuan mahasiswa Indonesia lainnya di luar negeri tertahan untuk pulang. Kisahnya kemudian dituliskan dan dibukukan oleh Syarif Maulana, dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, dengan judul Nasib Manusia –seperti yang diminta oleh Uzhara sendiri. Buku ini dimulai dengan kisah masa kecil Uzhara yang ia lalui di Kayutanam, Sumatera Barat tempat ia dilahirkan pada 1931 dan tumbuh besar serta bersekolah di sana. Hingga situasi yang tidak menentu semasa Revolusi Kemerdekaan membuat ia bersama keluarga harus meninggalkan kampung halaman dan berpindah-pindah kota mulai dari Padangpanjang, Bukittinggi, hingga Payakumbuh. Akhirnya pada 1949 sesudah situasi sosial-politik Indonesia membaik pasca penyerahan kedaulatan ia meninggalkan tanah kelahirannya di Sumatera untuk kemudian menetap di Jakarta, setelah sebelumnya sempat terdaftar sebagai mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada 1952. Kehidupannya di Jakarta yang kemudian membuka jalan bagi Uzhara untuk bersentuhan dengan dunia film. Berawal dari tukang gambar properti, karirnya semakin menanjak mulai dari pemeran figuran, asisten sutradara, hingga menjadi sutradara beberapa film di dekade 1950an. Ia bekerja di Perusahan Film Negara (PFN) dan kemudian mengenal banyak nama sutradara yang ternama di dekade 1950an seperti Basuki Effendy, Bachtiar Siagian, Alam Surawidjaja, hingga Nawi Ismail. Pertemuan itu membawanya menjadi sutradara pada 1957 dengan memproduksi film berjudul Hari Libur yang dibintangi oleh Bing Slamet. Potensi dalam diri Uzhara muda ini yang kemudian membuat namanya direkomendasikan oleh Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI)—tempat Uzhara tergabung sebagai pelaku film—untuk berangkat menempuh studi sinematografi ke Uni Soviet. Jadilah pada 1958 ia bersama tiga orang rekannya yaitu Sjumandjaja, Zubair Lelo, dan satu orang dari Yogyakarta, berangkat menuju Moskow dan menempuh studi di sana. Pengalaman Uzhara di Moskow inilah yang kemudian menjadi narasi dominan dalam buku ini. Syarif mengisahkan dengan cukup baik proses perkuliahan yang dilalui oleh Uzharaselama hampir delapan tahun hingga lulus tingkat magister, terutama terkait pembuatan tugas-tugas film yang wajib dikerjakan oleh Uzhara untuk menyelesaikan studinya. Selain itu Syarif juga merekam kehidupan sehari-hari Uzhara selama di sana, interaksinya dengan teman-teman kelasnya, hingga perjumpaannya dengan Utuy Tatang Sontani sebagai sesama eksil Indonesia di Uni Soviet. Tahun-tahun genting kemudian datang dan menjadi momen sekaligus patahan penting cerita dalam buku ini. Kedudukan Sukarno sebagai presiden perlahan dilenyapkan menyusul terjadinya Peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kemudian membuat Angkatan Darat di bawah komando Suharto berada di atas angin. Semua yang berkaitan dengan pemerintahan Sukarno, termasuk para mahasiswa yang belajar di luar negeri atas rekomendasi Bung Besar menjadi terkatung-katung. Mereka dihadapkan pada buah simalakama. Jika pulang ke Tanah Air mereka sudah pasti akan ditahan oleh pemerintah Orde Baru, namun jika tetap bertahan di luar negeri, kemungkinan besar paspor mereka dicabut dan kehilangan kewarganegaraan (stateless). Mereka yang terus setia dan loyal pada Bung Karno pada akhirnya banyak yang memilih opsi yang kedua, kendati konsekuensi yang mereka terima amat sangat pahit.   Konteks Sosial Politik yang Samar Ada beberapa catatan penting yang saya kira penting untuk menilai buku ini secara kritis. Pertama, Syarif tidak menjelaskan dengan pasti alasan pencabutan paspor Uzhara sehingga ia harus hidup puluhan tahun tanpa status kewarganegaraan yang jelas di Moskow. Hal ini tentu penting untuk memahami sebetulnya apa yang sedang terjadi ketika itu, mengingat bahwa Uzhara adalah rombongan mahasiswa yang dapat dikatakan paling awal untuk melakukan studi lanjut ke Uni Soviet di tengah gejolak Perang Dingin ketika itu. Selain itu tidak dijelaskan pula interaksi antara Uzhara dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia lainnya yang ada di sana, mengingat saat itu ada organisasi pelajar Indonesia yang dibentuk di sana dan kemudian terbelah dalam dua kelompok besar antara yang tetap pro-Sukarno dan yang memilih mengikuti rezim Orde Baru yang baru berkuasa. Kedua, tidak adanya penjelasan proses pencabutan paspor ini kemudian menimbulkan pertanyaan tentang preferensi atau kecenderungan politik Uzhara ketika itu. Dekade 1950an hingga 1960an adalah era yang amat sangat politis di mana tiap orang hampir pasti memiliki sikap politik yang jelas, antara berpihak pada partai-partai yang ada maupun loyal terhadap Sukarno sebagai simbol utama negara. Pilihan politik ini yang kemudian dapat memberikan gambaran mengapa kemudian Uzhara dengan bulat memilih tetap bertahan di Moskow, selain alasan pribadi dan keluarga tentunya. Ketiga, nampaknya Syarif luput untuk menuliskan periode akhir 1960an hingga awal 1990an dalam kehidupan Uzhara. Saya kira ini adalah periode yang transisi yang amat menentukan dalam kehidupan Uzhara di mana ia telah menyelesaikan studinya dan lantas dihadapkan pada situasi yang amat berat, di tengah tekanan pemerintah Orde Baru yang membuat kemungkinan untuk kembali ke Tanah Air nampak mustahil. Namun justru pada periode-periode inilah kisah Uzhara hanya disinggung sepintas lalu. Bisa dipahami beberapa kekurangan ini mungkin saja disebabkan faktor bahwa Syarif hanya menggunakan metode wawancara terhadap Uzhara untuk menyusun kisah dalam buku ini, satu-satunya metode yang memang hanya mungkin dilakukan oleh Syarif. Sebuah wawancara dilakukan di Bandung pada 2012 setelah Uzhara kembali ke tanah air, tentu usia Uzhara yang tidak lagi muda dan tentu saja ia mesti berusaha keras menggali berbagai ingatan dari puluhan tahun silam. Terlepas dari berbagai catatan kritis untuk buku ini, yang jelas kehadiran buku ini sekali lagi melengkapi ratusan literatur yang sudah tersedia, baik otobiografi, biografi, memoar, serta karya sastra mengenai para eksil Indonesia yang jumlahnya kemungkinan mencapai ribuan orang dan tersebar di berbagai negara di Eropa dan Amerika Latin. Misalnya saja catatan Martin Aleida berjudul Tanah Air yang Hilang (Kompas, 2016) yang merupakan wawancara terhadap belasan eksil Indonesia di Eropa yang dalam istilah Gus Dur disebut sebagai orang-orang klayaban. Untuk daftar lebih lengkapnya dapat dilihat pada bibliografi pustaka eksil yang ditulis oleh Henri Chamber-Loir pada dalam Sastra dan Sejarah Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2016). Pada akhirnya terbitnya Nasib Manusia sekali lagi mengingatkan kepada kita semua, terutama negara, bahwa ada satu periode dalam sejarah Indonesia yang hingga kini belum jelas penyelesaiannya. Suatu kebijakan negara di masa lalu yang pada akhirnya merenggut hak asasi warga negaranya sendiri, membuat mereka tercerai dari orang-orang terdekatnya, dan menghapus satu generasi intelektual Indonesia yang harusnya dapat membuat negara ini maju sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Dalam konteks ini saya kira tulisan Syarif Maulana melalui kisah mengenai Awal Uzhara yang setengah abad lebih menjadi eksil di Rusia menemukan relevansinya, terus menghidupkan dan menyalakan ingatan-ingatan yang tidak disukai dan bahkan berusaha dihapus oleh negara.   Biodata singkat :
-
Willy Alfarius. Alumnus Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2019). Berminat pada kajian sejarah agama, transmigrasi, dan hak asasi manusia. Saat ini sedang melanjutkan studi master di departemen yang sama. Dapat dihubungi melalui surel:willy.alfarius@gmail.com dan akun Twitter: @jalurgaza_

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Drakor Religi: Adakah Drama Korea religi?

Rabu, 6 April 2022 | 12:45 WIB

Palindrom, Upaya Menemukan Bentuk

Jumat, 21 Januari 2022 | 06:25 WIB

Menentang Paranoia Bebas Anak

Senin, 23 Agustus 2021 | 05:38 WIB

A Family: Sisi Lain Kehidupan Yakuza

Selasa, 13 Juli 2021 | 05:44 WIB

The BOX : Menantang Diri Sendiri, Yakin?

Jumat, 23 April 2021 | 11:07 WIB

Kiamat Sudah Dekat Versi Sains (?)

Selasa, 13 April 2021 | 23:12 WIB
X