• Jumat, 20 Mei 2022

Novel Kecubung Wulung: Jalan Kematian yang Damai

- Jumat, 7 Mei 2021 | 22:35 WIB
kecubung kover
kecubung kover

 
-
Judul: Kecubung Wulung Penulis: Han Gagas Ilustrator dan desain sampul: Alim Bakhtiar dan Mangun_art Penerbit: Interlude Terbit: Juli 2020 Tebal: x+148 halaman ISBN: 978-623-7676-33-1   Kisah dalam Kecubung Wulung dimulai saat tokoh “aku”, yang hingga akhir novel tak diketahui namanya, berkeluh kesah atas perilaku Suro, sang mertua. Meski Suro tengah sakit-sakitan, tapi ia tetap punya kuasa dan energi besar untuk berperilaku menyebalkan terhadap orang-orang di sekitarnya. Atas kejengkelan itu, kisah kehidupan Suro pun diceritakan. Termasuk di dalamnya kisah tentang Yangti Siti (ibu Suro), Buyut (ibu Yangti), Kyai Kasan (ayah Suro), dan masa lalu Suro (dominan). Di awal bab, Suro digambarkan sebagai lelaki tua yang sakit-sakitan dan sering kali bertelanjang bulat. Hal itu membuat keluarga resah, dan tokoh “aku” menebak jika hal itu mungkin pertanda kematian Suro sudah dekat. Ketidaknyamanan tokoh “aku” dalam situasi itu, memunculkan ingatan yang kemudian dia tuliskan. Ia berkisah tentang perjumpaannya dengan Suro, hingga menjadi menantunya. Kali pertama melihat Suro, tokoh “aku” teringat seorang warok yang pernah melecehkan dirinya. Dari kisah bab ini, Kecubung Wulung dapat sebagai gambaran traumatis korban pelecehan seksual, termasuk korban laki-laki. Meski sempat takut dan trauma, tokoh “aku” pada akhirnya tetap menikah dengan Arum, dan menjadi menantu Suro. Dari sanalah, ia pun dapat mengetahui seluk-beluk kehidupan Suro. Pada tahun 1950, Suro yang masih berumur 10 tahun tiba-tiba menghilang. Setelah dicari-cari oleh warga, Suro pun ditemukan di gundukan batu kali di tepi sungai di bawah pohon beringin, dekat prasasti Gadis Onje yang ditanam Sang Pangeran Kerajaan Surakarta. Wajah Suro hitam legam seperti dilumuri oli encer. Setelah ditarik dari lubang tersebut, tiba-tiba lubang itu kembali tertutup rapat. Atas kejadian itu, Suro dianggap mendapat anugerah luar biasa. Keanehan demi keanehan dalam diri Suro pun muncul. Ketika remaja, ia bisa mengayuh sepeda dengan sangat cepat. Hal itu membuat Wujil, temannya, ingin mendapat kekuatan serupa. Sejak saat itu, Wujil dan Suro berlomba-lomba mencari ilmu. Berbagai ritual pun mereka jalani. Jika Wujil memilih mencari guru, Suro memilih melakukan tapa brata seorang diri. Tapa brata pertama adalah kungkum, berendam di sungai besar. Usai berendam di sungai, ia melakukan tapa pendhem. Tubuhnya ditanam di dalam tanah hingga sebatas leher. Setelah itu, Suro melanjutkan tapa geni, tiga hari tiga malam mengurung diri di dalam kamar tanpa lampu. Tak boleh makan dan tak boleh minum. Suro juga berpuasa ngrowot selama 40 hari, hanya berbuka dengan umbi-umbian. Lalu puasa ngidang, makan daun-daunan saja. Puasa mutih, berbuka hanya dengan makan nasi putih dan minum air putih. Puasa weton jangkep 40 hari, dan terakhir adalah tapa ngeli, menghanyutkan diri ke arus Sungai Bengawan Solo dan hanya bisa berhenti jika tubuhnya tersangkut. Ia tak boleh sengaja menghentikan diri. Suro melakukannya sampai 35 hari, menghanyutkan diri tanpa makan, minum, tenggelam, dan tak dimakan buaya. Ritual yang dijalani Suro memang tak lazim, ia pun seolah menjadi manusia yang tak mengenal Tuhan. Namun, dalam setiap ritual, justru Suro merasakan dirinya sangat kerdil di hadapan Tuhan. Seperti saat melakukan tapa pendhem, ia seolah dilahap pohon-pohon yang menjulang tinggi di depannya dan hewan-hewan yang tampak menjadi sangat besar di atasnya. Hal itu seketika mengerdilkan dirinya. Air mata berleleran di pipinya, menyusuri bibir, dan dagu. Telah lama ia tak menangis, mungkin sudah tak bisa, tetapi sekarang ketika hampir semua tubuhnya ditanam dalam tanah ia hanya bisa pasrah. Saat seperti itulah, ia merasa menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang sejatinya sungguh tak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa, tak punya otoritas apa pun, hanya semata-mata pertolongan Tuhanlah ia bisa melanjutkan hidup. (62) Selain itu, dari tapa bratanya, Suro pun menemukan ketenangan batin. Dapat dilihat saat kali pertama ia melakukan kungkum. Semua adalah gelap, kecuali dirinya yang ada dalam pancamaya terang benderang. Semesta gelap, semesta yang tak terbatas. Di depannya, di belakang, di sebelah kiri, di sebelah kanan adalah kegelapan, dan dirinya sebagai satu titik kecil terang memancar dengan tenang. Tiada lagi benda, makhluk lain apa pun, bangunan atau apa yang bisa ditangkap indera, yang ada adalah dirinya si kecil yang terang di tengah kegelapan samudera yang tiada terbatas luasnya. Pancamaya yang menerangi dengan tenang.  (56) Meski setelah tapa brata Suro semakin sakti, ia menggunakan kelebihannya untuk menolong sesama. Ia gunakan kesaktiannya untuk membantu menyembuhkan penyakit, mengusir jin-jin jahat, dan pernah juga untuk membuat sumber mata air di desanya. Dalam prosesi penyembuhan, Suro tak hanya mengandalkan kekuatan diri, ia pun acap berpasrah kepada Tuhan. “Memang kita semua harus sabar, telaten, gemati, ikhlas dan hanya mengharap ridha Gusti. Berkah Allah pasti mengucur pada orang-orang yang sabar,” lanjut Suro. (11) Meski senang menolong, Suro akan menolak jika ada orang-orang yang meminta penglaris dan pesugihan kepadanya. Baginya, orang-orang itu hanyalah menuhankan materi, jauh dari peduli dengan kaum miskin. Seperti blurb yang tertulis di sampul belakang novel, Kecubung Wulung tak hanya membicarakan kisah hidup Suro dengan mistik kejawennya. Di dalam novel ini, terdapat juga masalah politik 1965 dan 1998. Penyebab penangkapan Suro, tapi gagal karena Suro bisa kabur menggunakan ilmunya, sekilas mengingatkan saya kepada novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Namun, keduanya begitu berbeda. Han Gagas menghadirkan peristiwa 1965 hanya sebagai peristiwa sesaat, sedangkan Ahmad Tohari menghadirkan porsi lebih banyak untuk kelindan peristiwa 1965 dengan kesenian. Terlepas dari berbagai peristiwa yang dihadirkan Han Gagas dalam satu novel, dan kadang membuat saya sedang enak-enak membaca tapi tiba-tiba ganti topik, Kecubung Wulung bagi saya begitu erat menghadirkan sosok paranormal Jawa yang religius. Terlebih, jika membaca kisah akhir Suro. Setelah dilakukan rukyah untuk mencopot segala macam ilmunya (ajian buta bajang, rajah kalacakra, dan lainnnya), Suro kemudian bisa pergi dengan tenang, bahkan saya merasa ikut serta mengiringi kepergiannya: kepergian yang digambarkan dengan begitu indah. Ia perlahan-lahan, dengan pelan, dan tak terasa berada di alam itu, di mana sejumlah orang menggandengnya dengan lembut, menaiki perahu yang agung itu. Perahu paling besar yang berada tepat di tengah-tengah rombongan…………………………………… Gamelan ditabuh demikian pelan dan syahdu menyertainya pergi. Begitu saja mengalun, dengan mudah, dengan nyaman. Menyusuri air yang bening, dan berubah pelan-pelan menjadi cahaya putih yang tak menyilaukan lagi. Kematian telah menemukan jalannya yang terang dan damai. (hlm 142)   Biodata: Umi Rahayu a.k.a Ayumi Hara lahir di Banjarnegara, 1996. Ia menyukai dunia menulis dan monolog. Beberapa resensi buku yang ia tulis dapat dinikmati di Ngalembuku.com, dan beberapa cerpennya pernah dimuat di media massa seperti koran Suara Merdeka, majalah Merah Putih, Majalah MAJAS, Majalah Opini Pelajar, dan di beberapa antologi bersama. Ia pernah menjuarai lomba menulis cerpen di kampus Unessa, menjadi juara I lomba peksimida Jawa Tengah 2018 dan juara III lomba peksiminas 2018.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Drakor Religi: Adakah Drama Korea religi?

Rabu, 6 April 2022 | 12:45 WIB

Palindrom, Upaya Menemukan Bentuk

Jumat, 21 Januari 2022 | 06:25 WIB

Menentang Paranoia Bebas Anak

Senin, 23 Agustus 2021 | 05:38 WIB

A Family: Sisi Lain Kehidupan Yakuza

Selasa, 13 Juli 2021 | 05:44 WIB

The BOX : Menantang Diri Sendiri, Yakin?

Jumat, 23 April 2021 | 11:07 WIB

Kiamat Sudah Dekat Versi Sains (?)

Selasa, 13 April 2021 | 23:12 WIB
X