• Jumat, 20 Mei 2022

Kiamat Sudah Dekat Versi Sains (?)

- Selasa, 13 April 2021 | 23:12 WIB
cover kepunahan keenam
cover kepunahan keenam

-
Judul buku : Kepunahan Keenam: Sebuah Sejarah Tak Alami Penulis : Elizabeth Kolbert Penerjemah : Zia Anshor Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2020 Dimensi buku: xii + 298 halaman ISBN : 978-602-06-3850-8   Anthony Hallam dan Paul Wignall mendefinisikan kepunahan massal sebagai peristiwa yang melenyapkan “sebagian cukup besar biota dunia dalam jangka waktu pendek secara geologis.” Ahli lain, David Jablonski, mendefinisikan kepunahan massal sebagai “kehilangan keanekaragaman hayati cukup besar” yang terjadi dengan cepat dan “bercakupan global” (hal. 13). Kita, setidaknya sebagian dari kita yang berkecimpung di bidang sains, mengenal enam kepunahan massal yang nyaris menghapus kehidupan dari muka bumi: kepunahan massal era Ordovician 445 juta tahun lalu, era Devonian 340 jtl, era Permian 251 jtl, era Triassic 200 jtl dan era Crataceous 66 jtl. Kita mengenal kepunahan massal yang tersebut terakhir itu sebagai kepunahan dinosaurus yang diawali oleh tabrakan antara bumi dengan asteroid, meninggalkan bukti berupa kawah besar di lepas pantai Yucatan Peninsula. Dan kita, sekarang tengah dalam proses kepunahan keenam. Ironisnya, sebagian besar dari kita tidak menyadari hal itu. Elizabeth Kolbert berupaya membuka mata kita tentang hal itu melalui bukunya Kepunahan Keenam: Sebuah Sejarah Tak Alami ini. Sejatinya, buku ini adalah gabungan dari perjalanan pribadi penulis mengunjungi berbagai fasilitas pelestarian spesies di berbagai negara, sejarah sains dan uraian seputar masalah-masalah lingkungan yang menghadang kita hari ini. Kolbert mengawali buku tersebut dengan kisah tentang salah satu spesies katak emas di Panama (Atelopus zeteki) yang mendadak mati dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Para peneliti kebingungan sampai akhirnya ditemukan bahwa kematian katak-katak tersebut disebabkan oleh fungus [baca: jamur] anggota kelompok chytrid. Fungus chytrid ada di hampir semua tempat, dari puncak pohon sampai bawah tanah. Namun spesies yang ditemukan di kulit katak mati belum pernah dilihat; saking tak biasanya, satu genus baru dibuat untuknya. Namanya Batrachochytrium dendrobatidis -batrakhos adalah kata Yunani untuk “katak”- atau disingkat Bd (hal. 10). Idealnya, untuk menyelamatkan katak-katak itu ilmuwan perlu menangkar mereka untuk sementara, mensterilkan habitat mereka dari Bd, kemudian melepas mereka kembali ke habitat tersebut. Namun karena jamur ini telah menyebar, tidak hanya di Panama, tapi juga ke sebagian Eropa dan Australia, hal tersebut mustahil dilakukan. “Kini, tampaknya Bd boleh dikata tak bisa dihentikan,” tulis Kolbert pada halaman 11. Katak-katak emas Panama memang berhasil diselamatkan dari kepunahan, namun mereka harus hidup dan berkembang biak di pusat pelestarian selamanya. Kolbert melanjutkan bukunya dalam alur yang maju mundur antara sejarah dan perjalanan pribadinya mengamati kepunahan berbagai spesies. Nama-nama pakar terkenal seperti George Cuvier dan Charles Darwin, beserta ketidaksepakatan-ketidaksepakatan pendapat di antara mereka, banyak muncul dalam buku ini. Selain punahnya katak emas Panama, penulis juga mengulas beberapa kepunahan (atau ke-nyaris-punahan) lain seperti Mastodon yang fosil-fosilnya banyak ditemukan di oleh orang-orang Eropa (Bab 2), Alka Besar yang kini tinggal awetannya saja -itu pun hanya satu ekor- di Eslandia (Bab 3), kelelawar cokelat kecil yang menghilang dari gua-gua di beberapa negara bagian Amerika Serikat akibat penyakit hidung putih (Bab 10), Badak Sumatera yang mati-matian diselamatkan di kebun binatang Cincinnati (Bab 11) serta kelompok manusia Neandhertal di Jerman yang telah punah namun sempat kawin dengan manusia modern sehingga menyisakan beberapa persen DNA-nya dalam tubuh manusia modern itu. Hal itu tidak lain adalah untuk memberikan kesan-kesan kuat mengenai kepunahan yang sedang berlangsung. Kolbert juga berargumen bahwa penyebab kepunahan keenam itu, tidak lain dan tidak bukan adalah manusia sendiri; sebab kegiatan-kegiatan kita yang mampu mengubah bentang ekologis (hal. 277). Para leluhur kita mulai bekerja sama dan menggunakan alat untuk memburu berbagai binatang, menggiring beberapa spesies menuju kepunahan tak terelakkan. Nyaris tidak mungkin bagi spesies jamur untuk menyeberangi samudera dan menginjak benua lain tanpa campur tangan manusia. Pabrik, kendaraan bermotor dan pembangkit listrik kita juga melepaskan miliaran ton gas CO2 ke udara dengan kecepatan melebihi CO2 yang dilepas oleh gunung-gunung berapi pada era Permian (hal. 128). Apa yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa manusia bukan hanya penyebab dari kepunahan keenam, tapi juga salah satu korbannya. Umat manusia sedang menggergaji cabang pohon yang sedang didudukinya (hal. 278). Meski begitu, ada beberapa harapan positif, bahwa kepintaran manusia akan mengalahkan bencana apa pun yang disebabkan kepintaran manusia juga. Contohnya, ada saintis-saintis serius yang berpendapat bahwa jika pemanasan global menjadi terlalu parah, kita bisa mengatasinya dengan merekayasa atmosfer. Beberapa rencananya antara lain menebar sulfat di stratosfer untuk memantulkan cahaya matahari kembali ke antariksa; atau menyemburkan titik-titik air di atas Pasifik untuk mempercerah awan. Jika tidak ada yang mempan dan keadaan memburuk, masih ada yang menganggap kita masih punya kesempatan: kita akan pindah ke planet lain (hal. 278).     BIODATA PENULIS Hari Taqwan Santoso, telah menulis beberapa buku diantaranya The Jadzab Boy (2012), Teruntuk Mentari dan Rembulan (2016), Kalau Aku Mati Besok (2016), Mandaraka (2017), dan Avalokitesvara (2020). Penulis juga menerjemahkan buku-buku dari banyak penulis dunia ternama seperti John Steinbeck, Erich Fromm, dan Fyodor Dostoevsky.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Drakor Religi: Adakah Drama Korea religi?

Rabu, 6 April 2022 | 12:45 WIB

Palindrom, Upaya Menemukan Bentuk

Jumat, 21 Januari 2022 | 06:25 WIB

Menentang Paranoia Bebas Anak

Senin, 23 Agustus 2021 | 05:38 WIB

A Family: Sisi Lain Kehidupan Yakuza

Selasa, 13 Juli 2021 | 05:44 WIB

The BOX : Menantang Diri Sendiri, Yakin?

Jumat, 23 April 2021 | 11:07 WIB

Kiamat Sudah Dekat Versi Sains (?)

Selasa, 13 April 2021 | 23:12 WIB
X