• Minggu, 29 Januari 2023

Ranggalawe: Kisah Pemberontakan Pertama dalam Kekuasaan Majapahit

- Minggu, 4 Desember 2022 | 20:07 WIB
Kuda Perang (Freepik)
Kuda Perang (Freepik)

NONGKRONG.CO - Pada akhir abad ke-13 Masehi, Kerajaan Majapahit baru didirikan oleh salah satu menantu dari Kertanegara, Raja terakhir Singhasari, yaitu Raden Wijaya. Tentu saja, dalam mendirikan kerajaan tersebut Raden Wijaya tidak sendirian, melainkan dibantu oleh beberapa orang kepercayaan.

Sebut saja Arya Wiraraja yang merupakan Bupati Songeneb (atau saat ini dikenal sebagai derah Sumenep) di Pulau Madura, anak dari Arya Wiraraja yaitu Ranggalawe, Dyah Nambi, Mahesa Anabrang, dan Lembu Sora.

Di awal pendiriannya, Majapahit membutuhkan lembaga dewan eksekutif untuk menjalankan roda pemerintahan. Lembaga eksekutif ini kemudian dikenal sebagai Panca Ring Wilwatikta atau Lima Pejabat Sentral Majapahit. Panca Ring Wilwatikta ini mengemban tugas yang kurang lebih sama seperti kemeterian di masa sekarang. 

Pada masa itu, Ranggalawe, yang merasa memiliki jasa dan peran besar dalam membantu Raden Wijaya dalam mendirikan Majapahit, menumpas Jayakatwang, dan pengusiran tentara Mongol, terbesit harapan dapat dipilih sebagai salah satu anggota Panca Ring Wilwatikta. 

Baca Juga: Hubungan antara Kertanegara, Kublai Khan, dan Raden Wijaya: Kisah 3 Kerjaan Kuno di Asia

Namun, Raden Wijaya tidak memilih dirinya. Raden Wijaya malah memilih Dyah Nambi yang berkedudukan sebagai rakryan patih, atau yang posisi jabatannya berada langsung di bawah raja. Sedangkan, Ranggalawe terpilih menjadi Adipati Tuban. 

Sejak saat itu, Ranggalawe mulai menunjukkan ketidak setujuannya. Meskipun ia tidak terpilih sebagai anggota Panca Ring Wilwatikta dan rakryan patih, tetapi menurutnya Lembu Sora lebih pantas mendapatkan posisi tersebut karena dirasa lebih berjasa dalam pendirian Majapahit. Dalam hubungan keluarga, Lembu Sora merupakan paman dari Ranggalawe.

Lembu Sora memilih untuk tetap menghormati raja. Ia juga memberikan nasihat kepada Ranggalawe untuk segera meminta maaf kepada raja. 

Keponakannya itu malah menolak meminta maaf kepada raja. Berdasarkan desas-desus yang beredar, Ranggalawe akan melakukan pemberontakan. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, Raden Wijaya memerintahkan Dyah Nambi, Mahesa Anbrang, dan Lembu Sora memimpin pasukan untuk menghukum Ranggalawe

Halaman:

Editor: Noor Wahid Al-Mutakassirah

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Secuil Kisah Candi Kalasan

Jumat, 27 Januari 2023 | 06:03 WIB

Menelisik Dinasti Shang dalam Peradaban Tiongkok Kuno

Minggu, 22 Januari 2023 | 19:00 WIB

Apa Itu Catur dan Sejarahnya

Kamis, 19 Januari 2023 | 11:00 WIB

Kisah Singkat Yerusalem dalam Sudut Pandang 3 Agama

Rabu, 18 Januari 2023 | 18:13 WIB

Sedikit Kisah Film Indonesia

Rabu, 18 Januari 2023 | 09:33 WIB

Secuil Sejarah Film

Selasa, 17 Januari 2023 | 10:00 WIB

Perkembangan Musik di Indonesia

Selasa, 17 Januari 2023 | 06:00 WIB

Sejarah Singkat Barongsai dan Jenis-Jenisnya

Senin, 16 Januari 2023 | 11:00 WIB

Baldwin IV: Raja Yerusalem yang Mengidap Sakit Lepra

Minggu, 15 Januari 2023 | 05:56 WIB

Sejarah Teh dan Simbol Kesopanan

Jumat, 13 Januari 2023 | 20:15 WIB
X