• Selasa, 5 Juli 2022

Kesarjanaan Revisionis dan Permasalahannya: Respons untuk Sdr. Fadhli Lukman, Oleh: Mun’im Sirry

- Minggu, 10 April 2022 | 09:18 WIB
Prof. Mun'im Sirry (University of Notre Dame)
Prof. Mun'im Sirry (University of Notre Dame)



Nongkrong.co - Saya membaca review Sdr. Fadhli Lukman atas buku “Kemunculan Islam dalam Kesarjanaan Revisionis” dengan senang hati. Fadhli memperlihatkan pemahaman yang cukup baik terhadap beberapa gagasan yang didiskusikan dalam buku tersebut. Ada bagian yang dia apresiasi dan bagian lain yang dikritik. Misalnya, dia menulis bahwa buku itu “bisa menjadi pintu masuk untuk bisa masuk secara lebih serius ke rujukan-rujukan primer.”

Dalam respons ini, saya akan fokus pada bagian yang dikritiknya, kemudian saya akan memberikan refleksi singkat mengapa perdebatan soal kesarjanaan revisionis perlu dilanjutkan. Saya menulis respons ini sebagai perhargaan intelektual atas usahanya.

Walaupun Fadhli menggambarkan secara benar bahwa buku itu semacam pintu masuk untuk mendiskusikan rujukan primer, dia mempertanyakan apakah saya “seorang sejarawan yang sedang mengkaji sejarah Islam awal, ataukah [saya] adalah seorang pengamat kesarjanaan revisionis mengenai Al-Qur’an dan sejarah Islam awal.” Pertanyaan seperti ini memang absah muncul, tetapi kalau buku saya itu dipahami secara proporsional, maka pertanyaan di atas dengan sendirinya terjawab.

Buku “Kemunculan Islam dalam Kesarjanaan Revisionis” (2017), yang sebelumnya diterbitkan Mizan dengan judul “Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Traditionalis dan Revisionis” (2013), dimaksudkan untuk memperkenalkan kesarjanaan revisionis kepada publik pembaca di Tanah Air. Yang menjadi fokus buku tersebut ialah berbagai teori modern yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana revisionis (dan juga tradisionalis) terkait bagaimana Islam muncul ke atas panggung sejarah.

Jadi, saya sedang mendiskusikan pandangan sarjana-sarjana revisionis dengan memperlihatkan metode dan kesimpulan mereka yang tidak monolitik. Tentu absah kalau saya memperlihatkan simpati saya pada model kesarjanaan revisionis tertentu.

Saya perlu akui, mungkin karena saya belajar secara dekat dengan Fred Donner di Chicago, dalam beberapa poin saya bersimpati pada pandangannya tentang kemunculan Islam secara gradual. Dari Donner saya belajar sejarah Islam awal secara serius.

Saya tidak masalah jika karena setuju dengan Donner atau bersimpati pada metode Gerd-R Puin itu saya disebut “teolog progresif,” bukan “revisionis.” Saya tidak peduli dengan label-label seperti ini. Yang saya lakukan ialah membaca literatur yang tersedia dan menuliskan refleksi dan pemahaman saya. Terserah pembaca untuk menilai dan melabeli hasil pembacaan saya itu.

Dan, tentu saja, Donner hanya satu dari sekian banyak sarjana yang membentuk kesarjanaan saya. Kesarjanaan itu, hemat saya, dibangun di atas pundak sarjana-sarjana lain. Kita perlu rendah hati untuk tidak mengatakan bahwa buku yang kita tulis atau gagasan yang kita kembangkan adalah semata-mata kerja orisinal kita sendiri.

Lebih-lebih lagi, buku “Kemunculan Islam dalam Kesarjanaan Revisionis” itu memang dimaksudkan sebagai “buku pengantar.” Buku lanjutannya yang mendiskusikan kesarjanaan revisionis secara lebih serius, termasuk pembacaan saya atas sumber primer dan sekunder, ialah “Rekonstruksi Islam Historis.” Dalam buku yang disebut terakhir ini saya memang mendeskripsikan “Kemunculan Islam” sebagai buku pengantar.

Karena Fadhli memfokuskan review-nya pada buku “Kemunculan Islam,” saya akan merespons dua kritik yang dikemukakannya terkait buku tersebut.

Pertama, soal saya tidak merespons kritik Azam Bahtiar dan Haigar Bagir dalam cetakan kedua tahun 2017. Dalam edisi pertama yang diterbitkan Mizan tahun 2013, Azam dan Haidar menulis “Pengantar Redaksi” yang diberi judul “Kritik atas Kritik terhadap Historiografi Muslim Awal.” (Saya tidak kaget ketika melihat buku saya diberi “pengantar” oleh orang Mizan sendiri yang mengkritik buku yang diterbitkannya. Mungkin mereka khawatir menerbitkan buku saya, dan karenanya diberi pengantar kritik.)

Halaman:

Editor: Ahmad A. Na’im-i

Tags

Terkini

Kerbau Langka Menuju Punah

Minggu, 3 Juli 2022 | 13:25 WIB

James Cook Penjelajah Dunia

Jumat, 1 Juli 2022 | 17:22 WIB

Mengulik Mitos Titan di Sangiran

Senin, 27 Juni 2022 | 10:56 WIB
X