• Selasa, 5 Juli 2022

Suara Sastra dari Masa Lalu - Fatih Abdul Bari

- Rabu, 10 November 2021 | 09:27 WIB
arlington-national-cemetery-2225762_960_720
arlington-national-cemetery-2225762_960_720

 

Menjelang hari pahlawan beberapa hari silam, nongkrong.co mengunjungi makam beberapa sastrawan dan penulis. Kunjungan ini kami lakukan selain untuk mendoakan yang terbaik bagi penulis-penulis Indonesia yang, dengan caranya masing-masing telah mengembangkan sastra dan Bahasa Indonesia, juga untuk sedikit mengenang sepak terjang mereka dalam sejarah sastra Indonesia.

Dengan bekal nekat dan agak sok tahu, redaktur nongkrong.co mendatangi Taman Pemakaman Umum Karet Bivak di Tanah Abang, Jakarta. Setelah sedikit berputar-putar di blok yang salah, nongkrong.co akhirnya menemukan makam pertama, pusara seorang sastrawan besar, penulis Tetralogi Buru yang masyhur, Pramoedya Ananta Toer.

Makam Pram (Dokumen Pribadi Nongkrong)

Nama sebesar Pram tentu tak perlu penjelasan panjang lebar. Satu-satunya orang Indonesia yang pernah dicalonkan sebagai penerima Nobel Sastra ini sudah sangat dikenal luas, buku serta karyanya akan terus diburu, dicari, dibeli, dikaji dan pastinya dibaca oleh publik Indonesia, bahkan dunia.

Di dalam dunia Sastra Indonesia, nama Pramoedya memang belum memiliki sandingan, perjalanan hidup dan karyanya sudah sangat terkenal. Pram lahir di Blora 6 Februari 1925 dan sempat menjadi penulis berita di Kantor Berita Domei semasa pendudukan Jepang. Selepas revolusi, karya-karya Pram mulai sering muncul, dibarengi keterlibatan besarnya dalam dunia sastra serta Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA). Karena keterlibatannya ini, Pram dianggap komunis dan ditangkap semasa Orde Baru berkuasa. Ia dibuang menjadi tahanan politik ke Pulau Buru dan di sana menelurkan mahakaryanya sepanjang masa, Tetralogi Buru.

Pram bebas dari di Pulau Buru pada 1979 dan menjadi tahanan rumah, kota, kemudian negara sampai 1999. Bebasnya Pram tidak segera membuatnya lepas dari berbagai prasangka. Misalnya pada 1995 ketika Pram dianugerahi Ramon Magsaysay Award, puluhan sastrawan melayangkan protes ke yayasan Ramon Magsaysay, termasuk Taufiq Ismail. Alasannya karena Pram dinilai tidak pantas menerima anugerah itu sebagai seorang bekas “algojo” LEKRA. Taufik Ismail belakangan meralatnya.

Pramoedya meninggal dunia pada 30 April 2006, ratusan pelayat menghadiri pemakamannya. Dalam prosesi, ratusan pelayat itu menyanyikan lagu Internationale dan Darah Juang.

Pram bukan satu-satunya nama besar dalam sastra Indonesia yang dimakamkan di TPU Karet Bivak. Selepas mendatangi dan mendoakan di sebelah pusara Pram, nongkrong.co mencari pusara seorang penyair pelopor angkatan 45, Chairil Anwar. Setelah bertanya pada penjaga TPU, nongkrong.co diantarkan ke pusara Chairil Anwar.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Kerbau Langka Menuju Punah

Minggu, 3 Juli 2022 | 13:25 WIB

James Cook Penjelajah Dunia

Jumat, 1 Juli 2022 | 17:22 WIB

Mengulik Mitos Titan di Sangiran

Senin, 27 Juni 2022 | 10:56 WIB
X