• Selasa, 5 Juli 2022

Melawat Bung Amir - Fatih Abdulbari

- Senin, 29 Maret 2021 | 05:14 WIB
Amir_Sjarifoeddin
Amir_Sjarifoeddin

Siang cerah tanggal 18 Maret 2021 pukul 13.00, awak Redaksi Nongkrong meluncur dari markas di Kota Solo ke Karanganyar. Setelah beramah-tamah di rumah begawan Kamar Kata, sastrawan Yuditeha, awak redaksi melanjutkan perjalanan ke daerah Ngaliyan di Selatan Kota Karanganyar. Tujuannya hanya satu: mencari makam. Bukan makam sembarang orang yang hendak awak redaksi cari, melainkan makam seseorang yang pernah menjadi perdana menteri di republik ini: Bung Amir Sjarifoeddin.

Rumah Sastrawan Yuditeha (Dokumen Pribadi Nongkrong)

Perdana Menteri mungkin terdengar aneh di telinga kita hari ini yang menganggap presiden sebagai kepala pemerintahan tertinggi. Faktanya, semasa revolusi presiden tidak lebih dari simbol yang tidak punya banyak kekuatan untuk memerintah, pucuk pemerintahan tertinggi dipegang oleh seorang perdana menteri dengan sistem parlementer.

Amir Sjarifoeddin menjadi perdana menteri kedua menggantikan Sjahrir sejak tahun 1947. Amir memang terkenal sebagai tokoh intelektual kiri cemerlang yang bersuara lantang untuk menentang kolonialisme Belanda serta Jepang dan untuk kemerdekaan Indonesia. Selama menjadi perdana menteri, ia memimpin republik ini melalui agresi militer pertama serta perjanjian Renville yang penting.

Meskipun begitu kabinet Amir dianggap terlalu lunak terhadap Belanda dalam perjanjian Renville. Kekecewaan publik, terutama yang tergabung dalam Masyumi dan PNI, kepada kabinetnya pasca perjanjian ini membuat seluruh kabinetnya mengundurkan diri dengan sukarela untuk digantikan oleh kabinet Hatta.

Bersama dengan Musso, Amir kemudian membuat gerakan Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang bertindak sebagai oposisi dari pemerintahan republik. Di kemudian hari, FDR menjelma menjadi pemberontakan separatis yang lebih dikenal dengan peristiwa Madiun 1948.

Ketika peristiwa Madiun pecah, Amir Sjarifoeddin sebenarnya tidak berada di sana. Ia tengah menghadiri Kongres Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Yogyakarta. Karena terlibat, Amir memang langsung bergabung ke Madiun. Ketika gerakan itu tumpas, Amir melarikan diri bersama beberapa kawannya namun berhasil ditangkap.

Atas perintah dari Gubernur Militer Gatot Subroto, mereka dibawa ke Desa Ngaliyan, Karanganyar. Menjelang tengah malam tanggal 19 Desember 1948, sebutir timah panas dari moncong senjata seorang polisi militer bersarang di kepala Amir. Ia dan kawan-kawannya dieksekusi tanpa proses persidangan dan langsung dikuburkan di pemakaman setempat.

Informasi inilah yang menggerakkan awak Redaksi Nongkrong untuk melakukan pencarian terhadap makam Amir. Sekedar untuk mengetahui dimana Amir dikebumikan serta memberi doa serta penghormatan, juga belajar salah satu episode dalam sejarah Indonesia.

Dengan agak ketar-ketir, kami memasuki daerah pemakaman setempat dan mulai membacai nisan, mencari nama Amir. Pusara tempat Amir Sjarifoeddin beristirahat ternyata hanya berupa makam sederhana dengan tulisan "rest in peace" kecil di atas namanya. Tak ada penanda lain yang menunjukkan bahwa tokoh yang ditimbun di bawahnya adalah seorang mantan perdana menteri Indonesia di masa revolusi.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Kerbau Langka Menuju Punah

Minggu, 3 Juli 2022 | 13:25 WIB

James Cook Penjelajah Dunia

Jumat, 1 Juli 2022 | 17:22 WIB

Mengulik Mitos Titan di Sangiran

Senin, 27 Juni 2022 | 10:56 WIB
X