• Selasa, 5 Juli 2022

Foklor dan Restorasi Makam Tua (Banyak Prada)

- Jumat, 8 Januari 2021 | 11:09 WIB
nm7ovq0ta4311
nm7ovq0ta4311

Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki beragam kebudayaan lokal dengan cirinya yang khas. Kekhasan budaya lokal tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional kita. Salah satu bentuk kebudayaan lokal adalah sastra lisan. Setiap daerah di penjuru negeri ini, tak diragukan lagi memiliki kekayaan sastra lisan yang beragam. Jawa misalnya, memiliki kekayaan lisan berupa tradisi macapat, unen-unen, ungkapan tradisional, teka-teki tradisional, puisi rakyat, tradisi mendongeng dan lain-lain. Tradisi ini juga ditemukan di tempat lain, misalnya tradisi macapat ini sama dengan mabasan di Bali dan Lombok. Tradisi mujadahan atau sholawatan yang berkembang di kalangan pesantren, tradisi singiran atau bersyair pada masyarakat pesisir, merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang berkembang di masyarakat. Salah satu tradisi lisan yang ada di masyarakat adalah folklore. Folklor bermula dari pola kehidupan masyarakat yang pada awalnya menekankan budaya lisan. Budaya lisan sebagai alat pertukaran informasi memberi keleluasaan seseorang untuk menggunakannya. Budaya lisan memberi ruang eksistensi untuk dapat berkembang di masyarakat. Fang (1991: 4) menyebut sastra rakyat (folklor) dengan istilah tradisi lisan. Tradisi lisan mencakup bidang yang luas, seperti cerita-cerita, ungkapan, peribahasa, nyanyian, tarian, adat resam, undang-undang dan teka-teki, permainan tradisional. Folklore disebarkan secara lisan, dituturkan dari mulut ke mulut, pewarisannya turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar diantara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi). Keberadaannya dalam berbagai versi dan varian yang berbeda. Sifatnya anonim, yaitu nama penciptanya tidak diketahui. Bersifat pra logis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sama dengan logika umum dan menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Fungsi folklore diantaranya : (1) sebagai sistem proyeksi, yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif; (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; (3) sebagai alat pendidik anak; (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya. Folklore Resa Kusuma Banyak Prada Salah satu contoh folklore yang saat ini masih berkembang di masyarakat desa Ngreco, Weru, Sukoharjo adalah folklore Riya Resa Kusuma Banyak Prada. Berdasarkan penuturan lisan masyarakat setempat, Riya Resa Kusuma Banyak Prada adalah pendiri dan leluhur di desa mereka. Konon, kata yang empunya cerita, Riya Resa Kusuma Banyak Prada merupakan pelarian dari Majapahit. Diduga, saat Majapahit diserang oleh Raden Patah, maka kondisi negara menjadi kacau. Hal itu terjadi karena Raden Patah menyerang Majapahit pada malam hari, saat prajurit Majapahit tidak siap menghadapi serangan lawan, sehingga Majapahit terdesak. Situasi kacau dan prajurit kocar-kacir, banyak diantaranya yang melarikan diri, menyingkir, menjauh dari pusat kerajaan Majapahit. Salah satu pasukan yang dipimpin oleh Riya Resa Kusuma Banyak Prada ini menyingkir dan sampai di desa Ngreco, Weru, Sukoharjo. Fakta benda atau artefak sebagai bukti keberadaan mereka adalah adanya makam Riya Resa Kusuma Banyak Prada yang disebut masyarakat dengan nama Gedong Ngreco. Area pemakaman seluas kurang lebih 100 m2 itu terdiiri dari 1 buah cungkup berisi dua nisan yang diyakini sebagai nisan Riya Resa Kusuma Banyak Prada dan abdi terkasihnya. Sekitar 5 meter di depan cungkup ada 2 buah nisan, yang diyakini berisi senjata berupa tombak yang dikuburkan dan diberi nisan. 3 meter di sebelah kiri cungkup ada 4 buah nisan, yang diyakini sebagai 2 prajurit pengawal, 1 guru dan 1 pekathik atau pemelihara tunggangan Riya Resa Kusuma Banyak Prada. Ada 1 area makam terdiri dari 4 batu-batu tegak, diyakini sebagai kuburan gajah untuk tunggangan beliau dan 1 nisan diyakini sebagai kuburan kuda tunggangan beliau juga. Hal yang unik bisa kita lihat dari bentuk nisan robyong, yang diyakini merupakan ciri khas Majapahitan. Bentuk nisan robyong ini memiliki jumlah tingkatan yang berbeda, antara yang di dalam cungkup dan di luar cungkup. Hal ini diduga berhubungan dengan kepangkatan/jabatan yang dimiliki. Hal ini tentunya masih perlu diteliti lebih lanjut, utamanya dari disiplin ilmu arkeologi. Mengenai sejarah pelarian Majapahit ini pun, juga masih perlu disinkronkan dan diteliti oleh para ahli sejarah, mengingat tidak ada data tertulis berupa angka tahun baik di nisan, di cungkup, maupun tuturan lisan masyarakat. Makam Riya Resa Kusuma di Gedong Ngreco ini, dahulu digunakan sebagai tempat sesirih. Mitos yang berkembang, diantaranya jika bukan dari trah keluarga, saat sesirih dan tidur atau menginap di tempat tersebut, maka akan dilemparkan keluar area makam. Larangan-larangan yang ada dan saat ini masih diyakini oleh masyarakat setempat dan tidak ada yang berani melanggar, diantaranya: apabila datang ke makam tidak diperkenankan menggunakan iket wulung, masyarakat tidak boleh memasang pagar bethek, tidak boleh menanam terong dan tidak boleh menanam kedelai hitam kecuali sudah pernah mantu 1 kali. Restorasi Beberapa waktu lalu pasukan Brigade Motor Pemuda Pancasila Solo dan Sukoharjo yang dikomando oleh Muhammad Wijanarko, S.T. melakukan pembersihan area makam yang awalnya tidak terawat dan tertutup rumput dan semak belukar. Pasukan Gabungan Brigade Motor ini bekerjasama dengan trah Niti Reso dan keluarga Joyo Martono yang merupakan keturunan ke 10, 11, dan 12 dari Riya Resa Kusuma Banyak Prada yang selama ini merawat area pemakaman tersebut. Keluarga Joyo Martono sendiri, sebelum melakukan kerjasama tersebut, terlebih dahulu berkonsutasi kepada Bapak Sukino Partosuwarno di Ngemplak, Banjarsari Surakarta dan Bapak Yustinus Redjo Mulyono di Jalan Majapahit Nusukan Surakarta. Keduanya merupakan trah Niti Reso dan saudara dari almarhum Bapak Joyo Martono. Konsultasi dilakukan oleh Siti Muslifah, S.S., M.Hum. Dosen Sastra Daerah FIB UNS putri pertama Bapak Joyo Martono dan Mardiyah Rohana Wati, A.Md. putri bungsu bapak Joyo Martono. Konsultasi dilakukan selain untuk memohon ijin kegiatan pembersihan dan pembenahan area makam, juga untuk mengetahui lebih jauh asal-usul dan sejarah Riya Resa Kusuma Banyak Prada. Berdasarkan keterangan yang didapatkan, Riya Resa Kusuma Banyak Prada ini masih merupakan leluhur dari KH. Abdul Khahar yang dimakamkan di Ngruweng. KH. Abdul Khahar ini dikenal sebagai guru dari Paku Buwana VI. Selain itu, dijelaskan bahwa area pemakaman ini pada masa lalu merupakan tanah perdikan, artinya tanah bebas yang merupakan milik bersama masyarakat. Urut-urutan dan silsilah yang dirunut berdasarkan wawancara sementara sebagai berikut : Riya Resa Kusuma Banyak Prada, Riya Resa Winangun, Riya Resa Yuda, KH. Abdul Khahar, Kasan Menjaet (mungkin maksudnya Hasan Mujahid), Sowira, Wira Semita, dan Niti Reso (alm. Gito Rumekso, alm. Salimin Atmo, alm. Wakimin Priyasuwarta, almh. Rubiyem Harno Supadmo, alm. Djaiman Padmorumekso, alm. Sukasmin, alm. Suradi, Sukino Partosuwarno, alm. Joyo Martono, Yustinus Redjo Mulyono, alm. Mulyati). Kegiatan Pasukan Gabungan Brigade Motor Pemuda Pancasila Solo dan Sukoharjo bersama trah Niti Reso ini, juga meminta ijin ketua RT dan Bapak Sarwiji selaku Babinsa setempat. Brigade Motor juga menghadirkan KRNgt. Kartiko dan Kanjeng Mandala dari Karaton Surakarta, yang melihat secara spiritual kondisi area pemakaman. Beliau menyatakan bahwa kegiatan restorasi ini merupakan kegiatan terkait perlindungan terhadap Benda Cagar Budaya dan ke depan, akan diupayakan area pemakaman Riya Resa Kusuma Banyak Prada menjadi wisata religi ziarah makam bersejarah. R. Adi Deswijaya, seorang peneliti dari UNS, menyatakan akan ikut membantu proses pendaftaran dan pengajuan area makam Riya Resa Kusuma Banyak Prada agar terdaftar di kantor BCB setempat. Dokumentasi kegiatan, silakan klik link berikut https://youtu.be/Gb1PuIlyKbE Kegiatan ini, yang merupakan kegiatan awal, baru dihadiri oleh sebagian trah Niti Reso dari keluarga Joyo Martono, termasuk menantu Han Gagas (Rudy Hantoro) dan cucu Aryo Dwiradho, juga ibu Supanti Joyo Martono. Nantinya, pada kegiatan pembenahan cungkup seluruh trah Niti Reso berencana hadir. Kanjeng Kartiko dan Kanjeng Mandala berencana mengundang GKR. Wandansari Koes Murtiyah dari Karaton Kasunanan Surakarta. Kegiatan ini penting sebagai salah satu upaya pelestarian budaya bangsa, selain itu, sesuai pendapat Purwadi (2009: 3) bahwa folklor pada hakikatnya merupakan identitas lokal dalam kehidupan masyarakat tradisional. Sama halnya dengan folklore Riya Resa Kusuma Banyak Prada ini, ke depan dapat menjadi identitas masyarakat Ngreco, Weru, Sukoharjo. Semoga.   sumber gambar  
-
Siti Muslifah Kandidat doktor di ISI Solo, dosen FIB UNS Solo.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Kerbau Langka Menuju Punah

Minggu, 3 Juli 2022 | 13:25 WIB

James Cook Penjelajah Dunia

Jumat, 1 Juli 2022 | 17:22 WIB

Mengulik Mitos Titan di Sangiran

Senin, 27 Juni 2022 | 10:56 WIB
X