• Minggu, 29 Januari 2023

Filosofi Jawa: Timun Ungkuk Jaga Imbuh

- Sabtu, 12 November 2022 | 10:00 WIB

NONGKRONG.CO ---Filosofi Jawa. Timun Ungkuk Jaga Imbuh ‘Timun Bengkok untuk Tambahan’ adalah salah satu pitutur luhur orang Jawa yang cukup populer dan sering terdengar. Secara harfiah arti dari timun ungkuk jaga imbuh adalah timun bengkok atau bongkok (tidak terlalu baik), yang digunakan sebagai tambahan dengan sifat berjaga-jaga saja atau tidak dihitung.

Dalam jual beli ini berarti barang yang cacat, kurang bagus, tidak terlalu baik; yang kemudian diberikan sebagai tambahan dalam transaksi tertentu. Artinya, barang tersebut tidak bisa diperjualbelikan karena kondisinya yang tidak memenuhi syarat atau berada di bawah standar. Barang itu ada dan memenuhi tempat, tetapi tidak bisa dinilai karena tidak ada harganya.

Baca Juga: Teman Dari Amsterdam - Bagian 1

Secara lebih luas, arti dari timun ungkuk jaga imbuh merupakan filosofi Jawa yang memberikan nasihat tentang keberadan seseorang. Timun ungkuk jaga imbuh berarti keberadaan seseorang di dalam kelompok atau komunitas tertentu, tetapi dianggap tidak terlalu penting. Dia bisa digunakan untuk kepentingan tertentu (menambahkan sesuatu), tetapi kalau pun dia tidak ada, tidak mengurangi point atau nilai secara keseluruhan.

Seseorang yang disebut dengan timun ungkuk jaga imbuh berarti seseorang itu bisa dikatakan penting tidak penting. Dianggap penting karena ada di komunitas tersebut dan memang harus dihitung sebagai satu orang. Namun orang tersebut juga dianggap tidak penting karena yang bersangkutan tidak memberikan kontribusi maksimal. Sosok tersebut tidak memegang peranan penting atau peran kunci dalam komunitas atau lingkungannya.

Baca Juga: Ibu Negara Cerbung Bagian 1

Apakah orang-orang seperti ini ada? Jawabannya selalu ada dalam setiap lingkungan, komunitas, kelompok, organisasi, atau bahkan di lingkungan keluarga. Tentu ini bukan hal yang menyenangkan bagi perkembangan seseorang atau pribadi. Kondisi yang kurang baik itu merupakan sesuatu yang perlu diperbarui.

Nasihat ini menggambarkan bagaimana cara orang Jawa memandang eksistensi seseorang. Orang Jawa melihat peran serta seseorang secara keseluruhan berdasarkan kontribusinya kepada khalayak luas. Artinya, seseorang dianggap penting atau tidak bukanlah berdasarkan garis keturunan atau kekayaaan atau jabatannya, tetapi bagaimana ia berperan serta dan memberikan manfaat demi kebaikan orang lain secara luas.

Baca Juga: Cerpen HP Bu Momon

Halaman:

Editor: Ari Wulandari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X