• Selasa, 5 Juli 2022

Yang Fana adalah Waktu, Kepentingan (Politik) adalah Abadi

- Jumat, 24 Juni 2022 | 11:22 WIB
Yang Fana adalah Waktu ( Jakub Luksch dari Pixabay)
Yang Fana adalah Waktu ( Jakub Luksch dari Pixabay)

Nongkrong.co - Selama ini, kita mengira waktu berjalan maju selangkah demi selangkah. Pada tiap langkah itu, kita menetapkan semacam patok yang menandai waktu secara kronologis. Sains modern menciptakan detik ke-1, detik ke-120, dan seterusnya. Sains kuno membuat patokan bulan purnama untuk menandai masa-masa tertentu yang bernilai bagi kehidupan manusia.

Dulu, manusia menulis: Majnun mengatakan: "Sudah dua belas purnama, aku tidak melihat wajah Layla." Dan, kini, sebagian orang mengatakan: "Kereta terlambat datang dua belas menit". Di sekolah-sekolah, para siswa menghitung pada detik ke berapa dua buah benda yang berangkat dari titik yang berlawanan arah akan bertemu pada titik "x". Toh, siapapun bisa memeriksa dan membuktikan sendiri: sains modern hidup berdampingan dengan sains kuno, apapun bentuk interaksinya.

Anggapan kita tentang pembagian waktu di atas, sesungguhnya tetaplah bersifat ilusif. Pembagian waktu secara kuantitatif yang kita lakukan, meskipun sangat berguna, tidaklah benar-benar nyata. Kenyataannya, sehari-hari, manusia tetap mencerap waktu secara kualitatif. Contohnya, saat kita berhenti sesaat waktu lampu merah lalu lintas menyala.

Di sekolah, orang-orang menerjemahkan kata "sa'at" dengan konsep kuantitatif 1 (satu) jam. Padahal, kata itu lebih bernuansa kualitatif yang setara dengan makna kata "sesaat" (dalam bahasa Indonesia). Kata "sa'at" juga digunakan untuk merujuk peristiwa penting dalam khazanah keagamaan, yakni hari Kiamat. Silakan buka QS al-Ahzab 63: "...Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat (waktunya)." Konsep waktu dalam kejadian hari Kiamat ini diletakkan dalam makna kualitatif.

Dalam makna kualitatif itu, kita tidak bisa memberi ketentuan bahwa tiga menit sebanding dengan sesaat dan dua puluh tahun sebanding dengan sangat lama. Secara kualitatif, perhubungan linear semacam ini tidak relevan. Kualitas (waktu) senggama tiga menit dapat bermakna lebih lama dibandingkan perasaan cinta seseorang saat pertama kali bertemu yang tetap bertahan tak berubah hingga dua puluh tahun kemudian. Para pencinta mengatakan: "Siapa yang mampu melupakan cinta pada pandangan pertama?"

Bahkan pembenci juga menghilangkan konsep pembagian waktu dalam ingatan yang bertahan abadi. Secara bahasa, abadi tidak bermakna waktu yang kuantitatif sejumlah seratus tahun, melainkan selamanya. Kata "selamanya" merujuk pada hilangnya pembagian waktu tersebut. Dan kenyataannya, baik pembenci maupun pencinta sama-sama berada dalam maqom ini, meskipun berbeda kutub.

Ingatan memang bukti terkuat bahwa waktu pada dasarnya utuh, tidak pernah terbagi. Berbagai kasus politik pun sebenarnya termasuk dalam penjelasan ini. Saya mengambil kasus hubungan PDI-P dan Partai Demokrat.

Baru-baru ini, di sela Sekolah Partai PDIP, Kamis (23/6/2022), Hasto Kristiyanto, Sekjend PDI-P, menegaskan PDI-P sulit untuk bekerja sama dengan Partai Demokrat sebab adanya perbedaan ideologi di antara kedua partai. Melihat "sejarah partai", Hasto menyebut kedua partai sulit untuk berkoalisi. Baca beritanya di liputan6.com pada tautan ini.

Baca Juga: (Saya) Mendukung Cak Imin

Rasanya, tak sulit-sulit amat membaca pernyataan Sekjend PDI-P di atas. Ideologi apa yang sedang diklaim oleh PDI-P berbeda dengan Partai Demokrat apabila kenyataannya kedua partai tersebut terperosok ke dalam fakta "partai politik sebagai perusahaan bisnis keluarga". Di tambah pidato Ibu Megawati tentang "tukang bakso" dan "papua" baru-baru ini semakin menegaskan bahwa dasar klaim PDI-P sebagai partai "wong cilik" telah hancur luluh lantak tak menyisakan apapun, bahkan hingga seukuran zarah-zarah sekalipun.

Halaman:

Editor: Ahmad A. Na’im-i

Tags

Terkini

Budaya Ngopi Dan Batasan Yang Perlu Diketahui

Selasa, 5 Juli 2022 | 16:15 WIB

Simak Cara Alami Mengatasi Panas Dalam

Selasa, 5 Juli 2022 | 08:15 WIB

Suka Makanan Pedas? Waspada 5 Bahaya Mengintai

Senin, 4 Juli 2022 | 18:30 WIB

Lakukan Hal Ini, Bisa Bikin Umur Lebih Panjang

Senin, 4 Juli 2022 | 18:15 WIB

Kenali Lebih Banyak Mental Illness

Senin, 4 Juli 2022 | 15:15 WIB

Kenapa Banyak Artis Jual Diri

Senin, 4 Juli 2022 | 14:29 WIB

5 Tips Ampuh Alami Mengusir Nyamuk

Senin, 4 Juli 2022 | 13:15 WIB
X