• Selasa, 5 Juli 2022

Menyoal Lelahnya Mencari Pekerjaan

- Minggu, 19 Juni 2022 | 06:56 WIB
Pekerjaan di Industri Pertambangan (Анатолий Стафичук dari Pixabay)
Pekerjaan di Industri Pertambangan (Анатолий Стафичук dari Pixabay)

Nongkrong.co - Kerja dan pekerjaan telah menjadi persoalan pelik peradaban manusia, setidaknya terutama sejak era berlangsungnya revolusi tata cara produksi barang dan jasa berbasis industrialisasi. Pada era ini, makna kerja telah disempitkan hanya pada aktivitas yang menghasilkan upah yang lazimnya berbentuk mata uang, bukan natura (hasil-hasil alam). Atas dasar makna ini, aktivitas mencuci piring dan merawat anak-anak yang dilakukan oleh seorang ibu terdorong untuk keluar dari sesuatu yang disebut sebagai kerja. Ibu rumah tangga praktis tidak disebut sebagai pekerja.

Pada kasus lainnya, industri juga turut memisahkan makna kerja sebagai bagian yang melekat pada cipta-rasa-karsa manusia menjadi hanya menyisakan makna kerja sebagai kegiatan yang mendatangkan upah saja. Manusia yang terlibat dalam kegiatan produksi massal pada suatu industri cukup dipandang sebagai pengganti mesin produksi, tanpa perlu menimbang kepribadiannya sebagai manusia yang utuh. Tentu, di lapangan, gambaran pemisahan ini ditemukan secara bertingkat/gradasi.

Pola pikir industri (yang berkembang saat ini) juga turut mengubah secara drastis hak kepemilikan sumber daya kehidupan, yang semula bersifat komunal menjadi lebih banyak yang bersifat pribadi. Contoh sumber daya kehidupan yang bersifat komunal adalah (kawasan) tanah adat/ulayat. Sumber daya kehidupan yang dihasilkan dalam kawasan tanah adat/ulayat dapat dinikmati secara bersama-sama oleh komunitas adat/ulayat. Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan: Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.

Meski diakui negara, syarat “sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat” pada pasal 18B ayat (2) UUD 1945 di atas akan rawan mengalami ancaman yang datang dari gaya hidup masyarakat yang mengutamakan pola pikir kepemilikan sumber daya kehidupan secara privat.

Ilustrasi yang paling mudah dalam hal menguatnya pola pikir kepemilikan privat adalah, misalnya, (hampir tak adanya pilihan selain) penggunaan kendaraan pribadi ketimbang kendaraan massal milik publik. Ironisnya, pola pikir privat ini juga merambah ke kawasan perdesaan, yang secara tradisional lebih mewarisi pola pikir kepemilikan secara komunal ketimbang perkotaan.

Baca Juga: Tiga Kekeliruan Dalam Pemilahan Pekerjaan Dunia dan Pekerjaan Akhirat

Dampak paling kentara dari menguatnya (pola pikir) hak kepemilikan privat ketimbang komunal/publik, menurut saya, adalah makin menurunnya fungsi sumber daya kehidupan dalam memenuhi hajat hidup orang banyak (publik). Pada kasus tanah adat/ulayat, satu kawasan tanah adat/ulayat dapat memenuhi hajat hidup orang banyak yang tergabung dalam komunitas adat/ulayat tersebut.

Bandingkan dengan pola kepemilikan perusahaan perkebunan (multinasional) yang mesti menguasai jutaan hektar kawasan hanya untuk dimiliki segelintir orang yang menguasai perusahaan tersebut. Ketimpangan yang sangat tinggi ini adalah ciri paling utama dari adanya pola pikir kepemilikan secara privat. Dalam kalimat lain: segelintir orang menguasai begitu banyak sumber daya kehidupan sementara begitu banyak orang hanya menguasai segelintir sumber daya kehidupan.

Tepat di tengah jantung ketimpangan inilah, istilah "sulitnya mencari pekerjaan" berada. Yang dimaksud sebagai pekerjaan dalam istilah ini adalah kerja dalam makna aktivitas untuk mendapatkan upah. Dengan upah itulah, mereka akan mampu mengakses sumber daya-sumber daya yang dapat mereka gunakan untuk mendukung hidup mereka. Tentu saja, di lapangan, ditemukan gradasi upah dari tingkat yang paling tinggi sampai dengan yang paling rendah.

Dan tanpa perlu khotbah di atas bukit, kita terbiasa berpikir mengutamakan bagaimana mencari dan mendapatkan pekerjaan dengan upah tinggi ketimbang mempertimbangkan memperbanyak hak kepemilikan secara kolektif terhadap pelbagai sumber daya kehidupan.

Tentu saja, memilih kutub ekstrim di antara dua pilihan di atas adalah sama-sama tidak masuk akal. Di lapangan, kita pasti akan mempertimbangkan kedua pilihan di atas dalam upaya mengakses sumber daya kehidupan. Dan, banyak negara yang telah bereksperimen dalam hal mengalokasikan sumber daya kehidupan untuk para warganya ini. Namun demikian, tulisan ini tidak akan merinci hal-hal apa saja yang termasuk sumber daya kehidupan yang berkembang sesuai perkembangan zaman itu dan cara-cara pengalokasiannya.

Halaman:

Editor: Ahmad A. Na’im-i

Tags

Terkini

Budaya Ngopi Dan Batasan Yang Perlu Diketahui

Selasa, 5 Juli 2022 | 16:15 WIB

Simak Cara Alami Mengatasi Panas Dalam

Selasa, 5 Juli 2022 | 08:15 WIB

Suka Makanan Pedas? Waspada 5 Bahaya Mengintai

Senin, 4 Juli 2022 | 18:30 WIB

Lakukan Hal Ini, Bisa Bikin Umur Lebih Panjang

Senin, 4 Juli 2022 | 18:15 WIB

Kenali Lebih Banyak Mental Illness

Senin, 4 Juli 2022 | 15:15 WIB

Kenapa Banyak Artis Jual Diri

Senin, 4 Juli 2022 | 14:29 WIB

5 Tips Ampuh Alami Mengusir Nyamuk

Senin, 4 Juli 2022 | 13:15 WIB
X