• Senin, 15 Agustus 2022

Doa, Dzikir, Shalat, dan Shalawat

- Sabtu, 4 Juni 2022 | 11:22 WIB
Seorang gadis kecil sedang berdoa (truthseeker08 dari Pixabay)
Seorang gadis kecil sedang berdoa (truthseeker08 dari Pixabay)

Nongkrong.co - Beberapa hari terakhir ini, kita menerima seruan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat untuk melaksanakan shalat Gaib untuk putra Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. Shalat gaib ini dilaksanakan layaknya shalat janazah. Bedanya, shalat jenazah dilakukan (umumnya) di hadapan jenazah, sedangkan sholat gaib dilakukan tanpa kehadiran jenazah.

Sebagai orang awam, praktik shalat jenazah dan shalat ghaib ini memantik pembicaraan kecil dalam diri saya. Yang patut saya syukuri, pembicaraan-pembicaraan ini bahkan menyelesaikan beberapa polemik terkait praktik keberagamaan umat Islam Indonesia. Polemik itu misalnya, apakah doa yang dipanjatkan kepada si jenazah akan tetap sampai pahalanya? Dalam hal polemik yang lainnya, saya kiranya perlu mencukupkan diri untuk tidak membahas panjang lebar dalam tulisan ini.

Tulisan ini tidak berpretensi berdiri dengan gagah secara akademik, dan lebih memilih alur penceritaan yang sederhana layaknya obrolan di warung. Bagi yang tidak sreg dengan pola tulisan yang akan saya sampaikan ini, saya mohon maaf dan kiranya tidak perlu melanjutkan pembacaan pada paragraf-paragraf selanjutnya.

Saya akan memulai obrolan ini dengan mengingatkan kembali arti shalat secara bahasa. Shalat dan sholawat adalah kata yang berasal dari bahasa Arab yang sama-sama mengandung makna doa. Sebagai ritual doa, tentu saja, shalat dilaksanakan berdasarkan tata cara tertentu, yang sebagian atau seluruhnya berbeda dengan tata cara berdoa agama lain di Indonesia. Sedangkan sholawat adalah doa yang dipanjatkan untuk Nabi Muhammad Saw, yang tak memerlukan tata cara khusus sebagaimana shalat. Hanya dengan penelusuran sekilas, siapapun kiranya dapat dengan mudah melihat bahwa ritual doa adalah ritual utama yang dilakukan oleh semua penganut agama, tentu dengan tata caranya masing-masing.

Baca Juga: Tiga Kekeliruan Dalam Pemilahan Pekerjaan Dunia dan Pekerjaan Akhirat

Doa-doa dipanjatkan, begitulah kita sering melafalkan frase ini. Dalam frase itu, doa terjadi sebab manusia mengakui adanya Yang Maha Tinggi dan secara subordinat manusia menempati derajat yang rendah. Dalam berbagai agama, yang Maha Tinggi itu disebut sebagai Allah (dengan segala derivasinya). Maksud saya, Allah sebenarnya adalah sebutan yang umum untuk Tuhan bahkan sebelum kerasulan Muhammad Saw. Anda dapat memeriksa hal ini secara mudah dengan memahami bahwa nama ayah Nabi Muhammad Saw adalah Abd-Allah, yang berarti hamba Allah. Ini menunjukkan tradisi penyembahan Allah telah berlangsung sejak sebelum Islam lahir. Anda dapat melanjutkan informasi ini dengan membaca buku-buku sejarah yang relevan yang Anda sukai, yang mana saja.

Pada titik ini, kita boleh bilang bahwa doa adalah konsekuensi utama adanya pengakuan Yang Maha Tinggi. Dan dalam konstruksi inilah, saya memahami bahwa dalam Islam, shalat dikukuhkan sebagai pilar utama dalam bangunan Islam. Pilar utama ini, bahkan, menjadi pilar bagi agama-agama yang sebelum kerasulan Muhammad Saw. Al-Quran surat Thaha, ayat 14, merekam "pertemuan" Nabi Musa As dengan Allah Swt yang mewahyukan kepada beliau untuk mendirikan shalat. "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS Thoha: 14)".

Dalam pasase ini, doa, dengan demikian, juga merupakan infrastruktur untuk mengingat (dzikr) adanya Yang Maha Tinggi. Sebagai dzikir inilah, doa lazimnya juga berisi puji-pujian kepada Yang Maha Tinggi (al-A'la).

Di sekujur shalat, siapapun yang menggunakan sedikit daya akalnya akan menemukan bahwa bacaan-bacaan dalam shalat adalah doa-doa yang separuhnya berisi puji-pujian ini. Mari saya tuliskan bacaan tasbih saat sujud dalam shalat: "Subhana robbiy al-A'la" (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Bacaan tasbih ini menegaskan doa sebagai pengingat adanya Yang Maha Tinggi sekaligus sebagai pujian kepada-Nya.

Wujud doa itu sendiri terdiri atas dua jenis, yang pertama adalah puji-pujian dan yang kedua adalah permohonan-permohonan. Bacan takbir saat takbiratul ihram, bacaan tahmid dalam surat al-fatihah, dan bacaan tasbih saat ruku' dan sujud adalah doa dalam jenis yang pertama.

Halaman:

Editor: Ahmad A. Na’im-i

Tags

Terkini

Akhirnya BMW X4 Telah Rilis!

Minggu, 14 Agustus 2022 | 17:30 WIB

5 Keunggulan Asuransi Cashless, Cepat dan Mudah

Minggu, 14 Agustus 2022 | 16:30 WIB

Resep Ayam Bakar Ungkep Sedap Mantab Wangi

Minggu, 14 Agustus 2022 | 16:00 WIB

Semangat Kemerdekaan dalam Lomba 17 Agustusan

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 17:00 WIB

Mengenal 3 Menu Sarapan Barat

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 15:00 WIB

4 Manfaat Asuransi Kesehatan, Penting untuk Proteksi

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:30 WIB
X