• Jumat, 20 Mei 2022

Tiga Kekeliruan Dalam Pemilahan Pekerjaan Dunia dan Pekerjaan Akhirat

- Rabu, 11 Mei 2022 | 13:46 WIB
Ceramah Agama (Mufid Majnun dari Pixabay)
Ceramah Agama (Mufid Majnun dari Pixabay)

Nongkrong.co - Agama telah menjadi salah satu sumber kebajikan sejak lama. Bahkan, hingga peradaban manusia telah mengembangkan instrumen kompleks mengenai aturan-aturan, posisi agama tetap tidak tergantikan. Melalui agama, orang mengatur dirinya untuk melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu, termasuk dalam hal memilih pekerjaan.

Dalam pemilihan itu, sebagian orang memilah bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan dunia, dan itu adalah pekerjaan akhirat hanya berdasarkan bentuk atau jenis pekerjaannya. Akibatnya, meski tidak secara vulgar, umumnya orang lebih menghormati pekerjaan penceramah agama sebab dianggap pekerjaan akhirat ketimbang pekerjaan penambal ban kendaraan yang dianggap pekerjaan dunia belaka, misalnya.

Tak cuma itu, tanpa disadari, sebab dalam bekerja membutuhkan ilmu-ilmu tertentu, orang juga cenderung memilah bahwa ini adalah ilmu dunia sedangkan ini adalah ilmu akhirat. Misalnya, ilmu menambal ban adalah ilmu dunia sedangkan ilmu tentang zakat adalah ilmu akhirat.

Sekilas, pemilahan ini tampak meyakinkan. Namun jika ditimbang ulang, pemilahan tersebut dapat mendatangkan setidaknya 3 (tiga) kekeliruan. Siapapun yang ingin menyempurnakan derajat mukallaf-nya hendaknya lebih mawas diri agar tidak jatuh dalam kekeliruan ini.

Berikut ini, kekeliruan-kekeliruan yang bisa kita periksa bersama-sama.

Kekeliruan pertama: menyangka bahwa pembagian dunia dan akhirat adalah pada aspek zahir, seperti jenis pekerjaan atau bentuk pekerjaannya. Padahal, sifat dunia dan akhirat hanya dibedakan berdasarkan aspek batinnya.

Dengan cara pandang ini, pekerjaan yang secara zahir berdimensi akhirat dapat jatuh ke dalam dimensi dunia saja. Atau, sebaliknya: pekerjaan yang secara zahir berdimensi dunia, sebenarnya juga berdimensi akhirat sekaligus.

Dalam al-Quran surat al-Maa'un, bahkan orang-orang yang sholat (mushollin) mendapat tuduhan celaka apabila berbuat riya (pamer kepada manusia). Ini dapat terjadi sebab riya adalah aspek batin dari suatu tindakan, bukan aspek zahir dari suatu tindakan.

Dan aspek batin dari suatu tindakan hanya bisa dikenali dari niatnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, Amirul mukminin Umar bin Khottob pernah mendengar Rasululloh bersabda bahwa suatu tindakan akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. Hadis ini juga dibukukan dalam 40 Hadis yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi dan diletakkannya dalam urutan yang pertama.

Halaman:

Editor: Ahmad A. Na’im-i

Tags

Terkini

Upaya Melarikan Diri TKW Arab Saudi

Kamis, 19 Mei 2022 | 13:53 WIB

Gejala-gejala Sakit Bipolar

Senin, 16 Mei 2022 | 11:23 WIB

Pengidap Bipolar Pun Bisa Jadi Dosen

Senin, 16 Mei 2022 | 10:51 WIB

Kisah Siswi Cerdas Lulus SMA Terpaksa Jadi TKW

Sabtu, 14 Mei 2022 | 13:03 WIB

Turun Ranjang

Selasa, 3 Mei 2022 | 15:00 WIB

Kisah PSK Saat Mudik Lebaran

Senin, 2 Mei 2022 | 15:00 WIB

Makna Kerja Dalam Budaya Jawa

Minggu, 1 Mei 2022 | 10:57 WIB

Menurut MUI, Begini Kriteria Penodaan Agama

Minggu, 1 Mei 2022 | 07:45 WIB

Pantun Cocok Buat Ucapan Lebaran

Sabtu, 30 April 2022 | 17:11 WIB

Catat, Ini Adab Salat Idul Fitri Beserta Haditsnya

Jumat, 29 April 2022 | 07:21 WIB

Dalam Bahasa, Kita Berlindung dari Persoalan

Senin, 25 April 2022 | 20:08 WIB

Mencicipi Preambule UUD 1945: Suatu Teknik Belajar

Minggu, 24 April 2022 | 10:34 WIB
X