Dalam Bahasa, Kita Berlindung dari Persoalan

- Senin, 25 April 2022 | 20:08 WIB
Ilustrasi Berbahasa (suju-foto dari Pixabay )
Ilustrasi Berbahasa (suju-foto dari Pixabay )

Setelah "kegiatan belajar mengajar", kali ini, saya akan melanjutkan pelacakan kata-kata lainnya yang berlaku di dunia pendidikan Indonesia.

Mula-mula saya ingin melanjutkan membahas kata guru dan siswa. Tetapi, sepertinya kata itu akan saya simpan untuk kesempatan yang lain. Sebagai gantinya, saya akan mengetengahkan pembicaraan tentang sekolah, dan penggunaan kata taman pada "Taman Siswa".

Taman Siswa adalah nama lembaga pendidikan yang didirikan oleh seorang bangsawan yang lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Tokoh ini kita kenal baik sebab hari kelahirannya dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional, setiap 2 Mei.

Penggunaan kata "taman" saat ini juga dijumpai pada lembaga pendidikan di bawah administrasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yaitu Taman Kanak-Kanak (TK). Dalam bahasa Arab, terjemahannya adalah Raudlatul Athfal (RA). Nama terjemahan inilah yang dipakai umat Islam yang menyelenggarakan TK di bawah administrasi Kementerian Agama RI.

Untuk umat agama selain Islam, saya tidak tahu apakah mereka membuat terjemahan sendiri berdasarkan bahasa yang mereka pilih. Tidak mungkin rasanya ada umat Hindu yang memakai nama RA untuk lembaga pendidikannya. Setahu saya ya selain umat Islam memakai nama TK. Dan ini berarti, mereka memilih berada di bawah administrasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Apakah dengan demikian Kementerian Agama RI juga mengurusi lembaga pendidikan setingkat TK yang diselenggarakan selain umat Islam?

Maafkan pertanyaan saya yang tidak perlu ini. Ini hanya konsekuensi dari pelacakan kata yang sedang kita lakukan. Bagaimanapun, menteri Agama yang saat ini sedang berjuang membuat Kementerian Agama benar-benar hadir untuk semua agama di Indonesia, tak hanya agama Islam saja.

Konsekuensi penggunaan kata "taman" dan raudlah yang juga berarti surga membuat kurikulum di TK/RA ini seharusnya tidak boleh membuat penyelenggaranya lepas dari makna awal yang dipahami.

Apa yang kita pahami sebagai taman cum surga adalah dunia yang indah penuh keriangan dan kasih sayang. Kalaulah makna awal ini ingin digugat dan diganti menjadi makna baru yang lebih disukai, saya khawatir kerancuan bahasa dan makna akan menimbulkan persoalan-persoalan, yang semestinya tidak perlu ada.

Orang Jawa akan bilang: enek-enek wae! Loro digawe dewe!

Halaman:

Editor: Ahmad A. Na’im-i

Tags

Artikel Terkait

Terkini

5 Manfat Bawang Merah yang Jarang Diketahui

Rabu, 6 Juli 2022 | 21:15 WIB

Seputar Takbir di Bulan Dzulhijjah

Rabu, 6 Juli 2022 | 18:45 WIB

5 Tips Alami Menurunkan Demam

Rabu, 6 Juli 2022 | 15:45 WIB

5 Tips Alami Ampuh Melawan Ketombe Membandel

Selasa, 5 Juli 2022 | 21:15 WIB

Kota Malang Beruntung Memiliki Sabtu Membaca

Selasa, 5 Juli 2022 | 19:15 WIB

Temukan Karakter Seseorang Lewat Kesukaan Warna

Selasa, 5 Juli 2022 | 19:00 WIB

Mujarab! Inilah 5 Obat Sakit Gigi Secara Alami

Selasa, 5 Juli 2022 | 18:45 WIB
X