• Minggu, 29 Januari 2023

Perdagangan Rempah dalam Novel Kura-Kura Berjanggut Karya Azhari Aiyub

- Minggu, 20 November 2022 | 21:30 WIB
Cover Novel Kura-Kura Berjanggut (Laras Sekar Seruni)
Cover Novel Kura-Kura Berjanggut (Laras Sekar Seruni)

NONGKRONG.CO --  Sejak masa sebelum Masehi, Nusantara dikenal sebagai tempat penghasil rempah-rempah. Melansir situs https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/ , terdapat penemuan jambangan berisi cengkih di daerah Syiria (dulu termasuk ke dalam wilayah Mesopotamia) yang diperkirakan berasal dari tahun 1721 SM. Argumen ini diperkuat dengan fakta bahwa cengkih merupakan rempah asli Maluku Utara.  

Artinya, sejak masa yang sangat lampau, nenek moyang bangsa Nusantara sudah mulai memperdagangkan rempah-rempah kepada bangsa asing. Perdagangan rempah tersebut terus berlanjut hingga Nusantara dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, hingga era kolonialisme. 

Bahkan, seperti yang sering disinggung di mata pelajaran Sejarah SMA, bahwa salah satu penyebab utama terjadinya kolonialisme di Nusantara adalah karena bangsa asing memperebutkan rempah, yang zaman dahulu harganya lebih mahal dari emas. 

Rempah yang kerap menjadi komoditas primadona di masa lalu sering dibahas di berbagai kesempatan. Rempah pun menjadi bahasan sentral dalam salah satu karya fiksi garapan Azhari Aiyub yang berjudul Kura-Kura Berjanggut

Baca Juga: Rempah Nusantara dan Rasa Nasionalisme Dimas, Dalam Novel Pulang

Novel setebal 960 halaman ini terbit pertama kali pada April 2018. Azhari Aiyub memulai penulisan novel ini pada tahun 2006. Artinya, ia melalui proses menulis selama kurang lebih 12 tahun. 

Proses menulis yang memakan waktu tidak sedikit itu terbayarkan dengan dimenangkannya penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2018. Kura-Kura Berjanggut didapuk sebagai karya prosa terbaik.

Kura-Kura Berjanggut sendiri terbagi ke dalam 3 bagian. Bagian pertama adalah Buku Si Ujud, bagian kedua adalah Buku Harian Tobias Fuller: Para Pembunuh Lamuri, dan bagian ketiga adalah Lubang Cacing.

Ketiga bagian ini miliki kisah yang saling berkelindan, meskipun ditulis di masa yang berbeda. Buku Si Ujud berlatar Kerajaan Lamuri yang terletak di dekat Selat Malaka dan terjadi pada sekitar abad ke-16 - ke-17. Buku Harian Tobias Fuller berlangsung masih di wilayah Lamuri, namun dengan latar waktu yang berbeda, yaitu pada era kolonialisme Hindia Belanda. Sementara Lubang Cacing bercerita tentang masa kini.

Halaman:

Editor: Noor Wahid Al-Mutakassirah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Trilogi Cerpen Maya: Dunia Maya karya Trip Umiuki

Senin, 23 Januari 2023 | 12:00 WIB

Don Quixote; Pahlawan Kesiangan de la Mancha

Senin, 23 Januari 2023 | 08:15 WIB

Loker: 3 Lowongan Kerja PT Mixue Indonesia

Jumat, 13 Januari 2023 | 21:00 WIB

Ibu Negara: Cerbung Bagian 65

Jumat, 13 Januari 2023 | 19:00 WIB

Ibu Negara: Cerbung Bagian 64

Kamis, 12 Januari 2023 | 19:00 WIB
X