• Senin, 15 Agustus 2022

Adimas Dan Caranya Mengelola Emosi Melalui Puisi

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 19:45 WIB
warna emosi manusia (ulyadays.com)
warna emosi manusia (ulyadays.com)

NONGKRONG.CO- Emosi adalah sebuah elemen yang tidak bisa dipisahkan dari manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna dan juga penuh kekurangan. Sebagai manusia, kita mungkin bisa merasakan berbagai macam bentuk perasaan secara emosional dalam satu waktu.

Sehingga secara tidak langsung, manusia bisa mengontrol hal itu bisa juga tidak. Dan sangat jarang sebuah studi (selama manusia menempuh jenjang pendidikan formal), mengajarkan dengan gamblang menyalurkan emosi dengan bijak tanpa perlu melibatkan orang lain.

Salah satu penyalur emosi yang terkadang cukup nyaman adalah puisi, dan beberapa penyair telah berhasil melakukan hal itu di beberapa puisinya. Seperti Adimas Immanuel dalam puisinya yang berjudul Kau tak sadar:

Baca Juga: Keutamaan Bulan Muharram, Bulan Kehormatan Bagi Umat Islam

Menulis puisi adalah caraku bersembunyi dari ingar-bingar. Asyik dengan bising puisi adalah caraku menghargai kesepian. Menyepi ke dalam puisi adalah caraku menghambat kegilaan. Menggilai puisi adalah caraku menahan keserakahan. Berfoya-foya dengan puisi adalah caraku menghemat kemarahan. Marah-marah melalui puisi adalah caraku agar tak bisa lagi berkata-kata kasar kepadamu. Hingga akhir kalimat ini kau baru sadar untuk apa aku menulis puisi.

Dalam puisi di atas, aku lirik nampak meluapkan segala macam bentuk perasaan. Dimulai dari kalimat awal yang berbunyi Menulis puisi adalah caraku bersembunyi dari ingar-bingar. Kemudian di kalimat selanjutnya lebih dipertegas dengan diksi kesepian.

Kalimat selanjutnya juga memperkuat dugaan pembaca (mungkin), bahwa si aku lirik ingin melepas segala macam bentuk keramaian yang ada dalam kepalanya melalui puisi. Kata ingar-bingar dalam puisi ini lebih diimplementasikan dengan makna beban pikiran.

Baca Juga: Pahlawan Pendidikan Indonesia Yang Perlu Kamu Ketahui!

Terbukti dari kalimat setelahnya yang memiliki diksi kegilaan. Sehingga diksi di kalimat sebelumnya menjadi lebih balance (seimbang) untuk dibaca para pembaca. Bahkan di kalimat-kalimat berikutnya terdapat diksi balance yang juga nyaman dibaca karena telah bertemu dengan pasangan diksinya satu sama lain.

Halaman:

Editor: Noor Wahid Al-Mutakassirah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jakarta Ramai Bentuk Lagu Tentang Jakarta Yang Menarik

Minggu, 14 Agustus 2022 | 10:45 WIB

Arafat dan Jejak Kota Yang Aneh

Minggu, 14 Agustus 2022 | 10:15 WIB

Tukang Tambal Ban

Minggu, 14 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Cerpen Keterasingan Sadewa Oleh S. Prasetyo Utomo

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 10:57 WIB

Perjalanan Yang Luar Biasa Ala Sapardi Djoko Damono

Jumat, 12 Agustus 2022 | 22:00 WIB

Mumut Dan Kumpulan Perasaan Yang Rumit

Jumat, 12 Agustus 2022 | 21:15 WIB

Arafat Dan Rekam Kota Yang Egois

Jumat, 12 Agustus 2022 | 19:15 WIB

Teman Dari Amsterdam Bagian 10

Jumat, 12 Agustus 2022 | 19:00 WIB

Perasaan Yang Multitafsir Ala Sapardi Djoko Damono

Jumat, 12 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Kesederhanaan Uang Ala Jokpin

Jumat, 12 Agustus 2022 | 09:30 WIB

Teman Dari Amsterdam Bagian 9

Kamis, 11 Agustus 2022 | 19:00 WIB

Puisi Padat Ala Michael Djayadi

Kamis, 11 Agustus 2022 | 07:30 WIB

Teman Dari Amsterdam Bagian 8

Rabu, 10 Agustus 2022 | 19:00 WIB

Liyya Dan Luka Yang Tak Kunjung Usai

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:45 WIB
X